NEUROSA OBSESIF –
KOMPULSIF
1.
Pendahuluan
Ingin selalu memiliki hal-hal yang
disenangi atau disayangi sesuatu yang normal. Tetapi jika keinginan itu sudah
menjadi obsesi yang mengubah kepribadian, kita harus waspada dan lebih
berhati-hati. Banyak orang yang menjadi tidak sadar bahwa dirinya telah
mengalami Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Karena memang sangat
tipis perbedaannya dengan obsesi yang sesungguhnya.
Gangguan obsesif-kompulsif adalah
suatu contoh dan efek positif dimana penelitian modern telah menemukan gangguan
didalam waktu singkat. Pada awal tahun 1980 an, gangguan obsesif-kompulsif
dianggap sebagai gangguan yang jarang dan berespon buruk terhadap terapi.
Sekarang diketahui bahwa gangguan obsesif-kompulsif sering ditemukan dan sangat
responsif terhadap terapi.
2.
Definisi
Penyakit
Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi.
Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan.
Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi. Penyaki obsesif-kompulsif berbeda dengan kelainan kepribadian obsesif-kompulsif. Penyakit ini terjadi pada 2,3% dewasa.
Obsesi adalah pikiran, perasaan, ide atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Kompulsif adalah pikiran atau perilaku yang disadari dibakukan dan rekuren.
Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan.
Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi. Penyaki obsesif-kompulsif berbeda dengan kelainan kepribadian obsesif-kompulsif. Penyakit ini terjadi pada 2,3% dewasa.
Obsesi adalah pikiran, perasaan, ide atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Kompulsif adalah pikiran atau perilaku yang disadari dibakukan dan rekuren.
Gangguan obsesi kompulsi dapat
merupakan gangguan yang menyebabkan ketidak berdayaan karena dapat menghabiskan
waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang,
fungsi pekerjaan, aktifitas sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman
dan anggota keluarga.
Adapun sifat-sifat obsesi kompulsi
ialah :
1. Dorongan pikiran-pikiran tersebut
mendesak diri ke alam sadar terus menerus.
2. Pasien menderita kecemasan dengan
sukar untuk melawannya.
3. Tidak diingini oleh pasien.
4. Pikiran itu dirasakan tidak
rasional tapi tetap dalam kesadarannya.
5. Pasien cenderung untuk secara
kuat melawannya.
Menurut Kamus Lengkap Psikologi J.P Chaplin (2001),
pengertian obsessive-compulsive neorosis yaitu :
suatu psiko-neurosa dengan ciri khas adanya ide (obsesi)
yang tegar melekat dan sering tidak dikehendaki, serta impuls untuk melakukan
kompulsi, atau perbuatan yang tidak rasional, stereotypis, dan ritualistis.
Diyakini bahwa pola tingkah laku yang obsesi dan kompulsif itu merupakan usaha
untuk mengatasi rasa takut atau untuk meredakan atau menghilangkan perasaan
bersalah.
Dalam Pedoman Penggolongan dan Gangguan Jiwa
(PPDGJ) edisi ke III, gangguan obsesif-kompulsif digolongkan dalam
gangguan neurotik dengan kode F.42. Sedangkan dalam
“Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” edisi keempat (DSM-IV)
yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA), gangguan obsesif
kompulsif digolongkan ke dalam kelompok gangguan kecemasan. Namun, sejumlah
penelitian menyebutkan bahwa gangguan obsesif kompulsif bertumpang tindih
dengan depresi. Artinya, gangguan obsesif kompulsif berkaitan dengan
perasaan negatif yang kuat, meliputi kecemasan dan juga kemurungan. Perasaan
seperti rasa bersalah, rasa tidak berdaya, dan ketakutan irasional hampir
selalu menyertai gangguan ini. Jadi, gangguan akan makin sulit diatasi
bila perasaan yang menyertainya makin mengkristal.
Penyandang gangguan obsesif kompulsif sangat tersiksa
oleh pikiran-pikiran yang terus menerus memaksanya melakukan tindakan tertentu
secara berulang tanpa ia kehendaki. Pikiran yang terus berulang dan sulit
ditepis ini yang disebut sebagal obsesi. Bila pikiran ini sudah diwujudkan
dalam bentuk tindakan berulang –yang sebenarnya tidak perlu, tidakan inilah
yang disebut kompulsi. Penderita biasanya menyadari bahwa tindakannya
berlebihan dan menghambat aktivitas sehari-hari. Namun, kesadaran penderita
akan ketidakefektivan perilakunya tak secara otomatis membuatnya mampu
melepaskan diri dari tindakan-tindakan aneh ini. Ada kalanya usaha yang keras
menghindarkan gangguan pikiran seperti ini justru mengakibatkan penderita makin
terjebak dalam ritual yang mungkin lebih parah lagi.
Beberapa gangguan di otak, seperti misalnya infeksi,
cedera, dan tumor otak dapat turut menyumbang terjadinya gangguan obsesif
kompulsif. Selain itu, faktor genetik juga diduga memberi sumbangan sekitar 30
persen pada jumlah penderita gangguan ini. Faktor psikologis yang bisa
menyebabkan ganguan obsesi kompulsif ini yaitu kecemasan yang sangat ekstrem
dan traumatik sehingga menimbulkan obsesi yang berlanjut pada perilaku
kompulsi.
Diperkirakan penderita gangguan obsesif kompulsif
dialami oleh 2-3 persen dari populasi di seluruh dunia. Mereka yang hidup
terpisah dari pasangannya, janda atau duda, dan penganggur mempunyai risiko
lebih besar menderita gangguan ini. Gangguan obsesif kompulsif sering terpicu
kemunculannya oleh peristiwa yang menimbulkan stres cukup besar bagi penderita,
seperti misalnya terjadinya kehamilan, kematian kerabat dekat, dan sebagainya.
Karena itu beberapa penderita mampu secara jelas mengisahkan sejak kapan mereka
mulai melakukan perilaku ritual yang tidak menyenangkan ini.
Gangguan obsesif kompulsif biasanya telah menampakkan
gejalanya pada saat penderita menginjak usia remaja atau dewasa awal. Meski
demikian beberapa orang telah memunculkan gejalanya sejak usia kanak-kanak.
3.
Epidemiologi
Insidennya lebih kecil yaitu 5 %
dari kasus neurosa. Insiden pada pria dan wanita adalah sama. Onset biasanya
pada masa kanak-kanak atau dewasa muda yakni sekitar usia 25 tahun dan hanya 5
% onset pada usia 40 tahun ke atas. Sedangkan yang agak menarik adalah bahwa
kaadaan ini banyak pada individu yang belum kawin yaitu sekitar 50 % dari
kasus. Bila ditinjau dari segi sosio-ekonomi maka penderita ini banyak terdapat
pada kelas ekonomi atas dengan Intellegensia yang tinggi.
4.
Etiologi
Penelitian terakhir memperkirakan
bahwa gangguan obsesi dan kompulsi melibatkan masalah dalam komunikasi antara
bagian depan batang otak (orbital cortex) dan struktur otak yang paling
dalam (basal ganglia), struktur otak menggunakan hormon serotonin
(hormon pengantar pesan). Diperkirakan tingkatan hormon serotonin ini tidak
mencukupi dan terlihat menonjol dalam kasus gangguan obsesi dan kompulsi ini.
Janet (1903) mengatakan bahwa
penyakit ini terjadi karena pengurangan energi mental yang patologis akibat
terjadinya desintegrasi fungsi mental dalam fungsi mental yang lebih tinggi
yaitu kehendak dan perhatian yang mengatur pikiran dan perbuatan. Bila fungsi
mental yang lebih tinggi mengalami gangguan maka akan bekerja fungsi mental
yang lebih rendah secara menonjol yang akan lebih berkuasa terutama emosi dan
memori dan lepas dari kontrolnya.
Menurut teori psikoanalitik Dr. Frend
dengan konsep Uncon Scious serta konflik intra-psikis. Ada tiga
mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas
gejala-gejala sifat karakter obsesi dan konfulsi yaitu : isolasi, undoing dan
reaksi formasi. Pada teori psikoanalisis klasik, gangguan obsesif-kompulsif dan
merupakan suatu regresi dari fase perkembangan kepribadiannya terutama dalam
fase anal-sadistik. Dianggap bahwa regresi merupakan mekanisme sentral dalam
pembentukan gangguan obsesif-kompulsif ini.
Akibat dari regresi ini terjadi pula
perubahan kualitas energi psikis berupa :
1.
Ambivalence : pada obsesi kompulsif secara sadar, sayang dan
benci selalu datang bersamaan.
2.
Magical think : disini pasien lebih dikuasai oleh pikiran
dan kejadian diluar dirinya. Hal ini diduga oleh karena pengaruh regresi.
3.
Perubahan super ego disini pasien sangat mawas diri, sangat
kritis sehingga ia menjadi cemas dengan apa yang dibuatnya, akibat terjadi ritual
dan kompulsif sebagai suatu kontrol pencegahan. Gejala mulai dari tingkat yang
enteng sampai yang berat.
Teori proses belajar (learning
theory). Menurut teori ini, obsesif
adalah sebagai akibat conditioned
stimulus yang disebabkan oleh anxiety. Dengan demikian terdapat
tingkah laku yang dipelajari. Kelemahan teori ini adalah bahwa teori ini tidak
dapat menerangkan mengapa ide-ide itu timbul terus.
5.
Gejala
Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Ritual dilakukan untuk mengendalikan suatu obsesi dan bisa berupa :
Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Ritual dilakukan untuk mengendalikan suatu obsesi dan bisa berupa :
a.
mencuci atau
membersihkan supaya terbebas dari pencemaran
b.
memeriksa untuk
menghilangkan keraguan
c.
menimbun untuk mencegah
kehilangan
d.
menghinidari orang yang
mungkin menjadi obyek penyerangan.
Sebagian
besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan berulang-ulang atau
memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Ritual
lainnya merupakan kegiatan batin, misalnya menghitung atau membuat pernyataan
berulang untuk menghilangkan bahaya. Penderita bisa terobsesi oleh segala hal
dan ritual yang dilakukan tidak selalu secara logis berhubungan dengan rasa
tidak nyaman yang akan berkurang jika penderita menjalankan ritual tersebut.
Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.
Simptom – simptom yang
ditunjukan oleh penderita gangguan obsesi kompulsif, antara lain :
1.
adanya obsesi,
yaitu ide – ide atau impuls yang berulang kali muncul dan menetap dalam pikiran
yang biasanya tidak rasional. Misalnya tangan saya akan terkontaminasi penyakit
maka saya harus mencucinya segera, atau saya mungkin tidak mengunci rumah
dengan benar maka saya harus mengeceknya lagi. Biasanya obsesi ini akan diikuti
oleh kompulsi untuk melakukan suatu perbuatan/perilaku. Dalam film itu Mr.
Udall cemas dan takut jika tubuhnya kotor jika melakukan kontak dengan dunia di
luar rumahnya.
2.
adanya kompulsi,
yaitu perilaku akibat obsesi yang dilakukan berulang kali. Perilaku kompulsi
yang sering ditemui adalah mencuci dan mengecek. Beberapa perilaku kompulsi
lainnya dapat berupa mengulangi suatu perilaku, menghitung ulang, dan mengatur
kembali suatu barang.
Kompulsi
yang tampak dalam diri Mr. Udall, yaitu :
a.
menggunakan sarung
tangan sekali pakai tiap keluar rumah
b.
mengunci pintu beberapa
kali
c.
menyalakan lampu
beberapa kali
d.
mencuci tangan dengan
sabun lebih dari 2 kali
e.
selalu memilih jalan
yang bersih
f.
tidak mau disentuh oleh
orang lain
g.
membawa alat makannya
sendiri yang sekali pakai, dan mengaturnya dalam posisi tertentu yang sama
h.
memiliki ritualitas
jadwal kegiatan yang ketat, misalnya datang ke restoran pada jam yang sama,
makanan yang sama, dan disajikan oleh pelayan yang sama.
Stressor atau kejadian yang membuat Mr. Udall mengalami
gangguan obsesif kompulsif adalah pengalaman masa kecilnya dimana ayahnya tidak
keluar kamar selama 11 tahun karena sebelumnya selalu memukul tangan Mr. Udall
jika ia melakukan kesalahan dalam bermain piano. Pengalaman itu membuat Mr.
Udall secara tidak sadar merasa sangat bersalah sehingga menjadi peristiwa
traumatik dalam kehidupan Mr. Udall yang akhirnya menimbulkan perilaku
obsesi-kompulsif.
Karakter Mr. Udall adalah pemarah, suka mencampuri
urusan orang lain, kasar dalam berperilaku, berani mengganggu orang lain untuk
mendapatkan apa yang diinginkan. Ini tampak ketika kursi tempat ia biasa duduk
digunakan oleh orang lain, Mr. Udall mengganggu orang tersebut sampai ia berhasil
mendapatkan kursi itu. Karakter lainnya yaitu suka berprasangka dan menyindir
orang lain dengan kata – kata yang pedas. Mr. Udall juga seorang pecemburu, iri
hati terhadap orang lain karena merasa tidak pernah beruntung, dan sulit memuji
atau menilai kebaikan orang lain.
6.
Gambaran Klinis
Simtom-simtom kliniknya terdiri dari
gangguan pada psikis dan tingkah laku.
Sikap obsesif yang umum ditemui
adalah :
a. Ketakutan terinfeksi kuman atau
kotoran
b. Membayangkan menyakiti diri sendiri
atau orang lain
c. Membayangkan kehilangan kendali dan
bertindak agresif
d. Membayangkan hal-hal yang
berhubungan dengan kekerasan seksual
e. Ketakutan moral-moral relegius yang
berlebihan
f. Memiliki pikiran-pikiran terlarang/
tak lazim
g. Keinginan agar segala sesuatunya
pada tingkat amat sangat
h. Keinginan untuk selalu bertanya,
menjelaskan dan menegaskan sesuatu.
Kompulsif yang sering terjadi ialah
mencuci tangan yang berlebihan, mandi, bersiram badan, menggosok gigi dan
bersisir, upacara yang diulang, memeriksa pintu, kunci, oven, rem mobil,
membersihkan pencemaran, menyentuh, menyusun dan mengatur benda, menghitung,
menyusun dan mengumpulkan benda dan upaya untuk mencegah cedera terhadap diri
sendiri atau orang lain.
7.
Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis pasti,
gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif atau kedua-duanya, harus ada
hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. Hal tersebut
merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktifitas
penderita.
Gejala-gejala obsesif harus mencakup
hal-hal sebagai berikut :
a. Harus disadari sebagai pikiran atau
impuls diri sendiri.
b. Sedikitnya ada satu pikiran atau
tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi
dilawan oleh penderita.
c. Pikiran untuk melakukan tindakan
tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan sekedar perasaan
lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti
dimaksud di atas.
d. Gagasan, bayangan pikiran atau impuls
tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly
repetitive).
Ada kaitan erat antara gejala
obsesif, terutama pikiran obsesif dengan depresi. Penderita gangguan obsesif
kompulsif sering kali juga menunjukkan gejala depresif dan sebaliknya penderita
gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama
episode depresinya.
Diagnosis gangguan obsesif konfulsif
ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif
kompulsif tersebut timbul. Bila dari kedua tidak ada yang menonjol, maka lebih
baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun,
maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain
menghilang.
Gejala obsesif “sekunder” yang terjadi
pada gangguan skizofrenia, sindroma Toerette, atau gangguan mental organik,
harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.
Diagnosis
biasanya ditegakkan berdasarkan penuturan penderita mengenai perilakunya.
Pemeriksaan
fisik dilakukan untuk menyingkirkan penyebab fisik dan penilaian psikis
dilakukan untuk menyingkirkan kelainan jiwa lainnya. Untuk memperkuat diagnosis
bisa dilakukan wawancara berdasarkan kuosioner Skala Obsesif-Kompulsif
Yale-Brown.
8.
Diagnosis Banding
Obsesif Kompulsif sebenarnya dapat
sebagai simtpom saja pada beberapa gangguan, seperti pada : neurosa depresi,
neurosa fobik, skizofrenia, lesi pada lobus temporalis, post encephalitis.
9.
Penatalaksanaan
a. Psikoterapi
Menurut Harry Broswell, psikiater
pada London Psychoterapy Association, penyimpangan ini bisa diobati dengan
tatap muka dan membicarakan masalahnya dengan ahli. Pada tingkat tertentu,
penderita akan diarahkan untuk mengerem ketakutannya hanya sebatas pikiran dan
tak terwujud dalam tindakan yang berbahaya. Dengan kontak yang kontinu dan
teratur dengan orang profesional yang tertarik simpatik dan mendorong pasien
mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut.
Penelitian yang meneliti aktivitas
otak yang dihubungkan dengan gangguan obsesif kompulsif telah menunjukkan bahwa
baik obat-obatan dan terapi psikologis tanpa obat-obatan memiliki beberapa efek
yang hampir sama pada batang otak orang-orang yang mengidap gangguan obsesif
kompulsif. Namun efek-efek dari pengobatan bersifat menetap sedangkan efek
obat-obatan cenderung menghilang ketika konsumsi obat-obatan dihentikan.
Menurut beberapa psikiater, hal ini merupakan bukti yang cukup kuat bahwa
psikologis atau pengobatan non obat dapat menyebabkan beberapa perubahan diotak
yang dihubungkan dengan penghilangan gejala.(1)
b. Terapi obat-obatan
Clomipramine merupakan obat standar
untuk pengobatan gangguan obsesif kompulsif. Suatu obat trisiklik spesifik
serotonin. Clomipramin dimulai dengan dosis 25 mg sampai 50 mg sebelum
tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg/ hari dua sampai tiga
hari sampai dosis maksimal 250 mg/ hari.
SSRI (Spesifik Serotonin
Re-Upteke Inhibitor) yaitu fluoxeetine, sertraline (zoloft) dan
paroxetine (paxi). SSRI digunakan sebagai obat pilihan pertama pada
gangguan obsesif kompulsif.
Terapi pemaparan merupakan sejenis
terapi perilaku yang bisa membantu mengatasi penyakit ini. Penderita dihadapkan
kepada situasi atau orang yang memicu timbulnya obsesi, ritual maupun rasa
tidak nyaman. Rasa tidak nyaman atau kecemasan secara bertahap akan berkurang
jika penderita mencegah dirinya melakukan ritual selama dihadapkan kepada
rangsangan tersebut.
Dengan cara ini, penderita memahami bahwa untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tidak perlu melakukan ritual. Obat-obatan yang efektif untuk mengatasi penyakit obsesif-kompulsif adalah klomipramin, fluoksetin dan fluvoksamin.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya penyakit ini. Biasanya kombinasi dari psikoterapi dan obat-obatan merupakan pengobatan yang terbaik bagi penyakit obsesif-kompulsif.
Dengan cara ini, penderita memahami bahwa untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tidak perlu melakukan ritual. Obat-obatan yang efektif untuk mengatasi penyakit obsesif-kompulsif adalah klomipramin, fluoksetin dan fluvoksamin.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya penyakit ini. Biasanya kombinasi dari psikoterapi dan obat-obatan merupakan pengobatan yang terbaik bagi penyakit obsesif-kompulsif.
Beberapa treatmen yang diberikan pada penderita
gangguan obsesif kompulsif, yaitu :
1. Terapi obat, Jika kita melihat film
tersebut, Mr. Udall harus minum beberapa pil obat dalam jangka waktu tertentu. Obat –
obatan yang biasanya digunakan yaitu flouxetine (ProzacR), fluvoxamine
(LuvoxR), and paroxetine (PaxilR). Fungsi obat – obatan tersebut yaitu
mengurangi frekuensi perilaku obsesi dan kompulsif dengan mempengaruhi hormon
serotonin.
2. Terapi perilaku, Dalam terapi ini
sangat dibutuhkan kerjasama penderita dengan terapis dan kesabaran penderita
itu sendiri. Pendekatan yang sering digunakan adalah exposure and response prevention,
dalam pendekatan ini penderita dikonfrontasikan dengan kecemasannya kemudian
ketika perilaku obsesif kompulsif itu muncul maka perilaku tersebut harus
dicegah sampai beberapa jam kemudian hingga kecemasannya menurun.
Contohnya kebiasaan mencuci tangan setelah menyentuh berbagai benda,
penderita disuruh memegang benda – benda kemudian ketika perilaku mencuci
tangan itu akan muncul segera dicegah dengan mengikat tangannya atau
menghalangi perilaku mencuci tangan sampai keiinginannya tersebut hilang.
3. Terapi kognitif, yaitu dengan
mengubah kepercayaan dan pola pikir penderita yang negatif berkaitan dengan
kecemasannya. Melalui terapi ini dibangun pola pikir yang positip dalam diri
penderita sehingga kecemasannya dapat dihilangkan.
Treatmen yang diberikan tidak semuanya efektif bagi
penderita Gangguan Obsesif Kompulsif, ada yang cocok dengan terapi perilaku,
namun ada juga yang hanya cocok dengan obat-obatan atau kedua – duanya
sekaligus. Treatmen juga bisa diberikan secara bertahap misalnya dengan terapi
obat dulu untuk mengendalikan simpton – simptonnya setelah itu baru dilanjutkan
dengan pemberian terapi perilaku.
Sosial support dari keluarga sangat dibutuhkan juga
dalam treatmen penderita gangguan obsesif kompulsive ini misalnya memberikan
perhatian dan kesabaran dalam berhubungan dengannya, membantu memberikan arahan
yang positip dan menolak berpartisipasi dalam perilaku obsesif kompulsif
penderita tersebut. Dalam film ini terlihat bahwa hubungan atau relasi dengan
orang lain yang dekat dapat mengubah atau mengurangi perilaku obsesi
kompulsifnya.
10.
Kesimpulan
Dengan
demikian, neurosis dianggap sebagai suatu penyakit mental yang belum begitu
mengkhawatirkan, karena ia baru masuk dalam kategori gangguan-gangguan, baik
diakibatkan oleh susunan syaraf maupunkelainan perilaku, sikap, dan aspek
mental lainnya. Gangguan-gangguan tersebut bisa berubah mengkhawatirkan apabila
penderitanya menganggap enteng dan tidak berusaha mencari terapinya. Ciri utama
neurosis ditandai dengan; (1) wawasan yang tidak lengkap mengenai sifat-sifat
dari kesukarannya; (2) konflik; (3) reaksi kecemasan; (4) kerusakan parsial
atau sebagian dari kepribadiannya; (5) seringkali disertai fobia, gangguan
pencernaan, dan tingkah laku obsesif-kompulsif. Bentuk-bentuk neurosis adalah
hysteria, reaksi kecemasan, neurasthenia,
obsesif-kompulsif, dan fobia.
Sedang psikosis
adalah suatu penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi
proses pikiran, gangguan dalam emosionalitas, disorientasi waktu, ruang dan
person, dan dalam beberapa kasus disertai halusinasi, delusi, dan ilusi.
Halusinasi adalah tangkapan atau persepsi dari salah satu pancaindera yang
keliru karena tanpa disertai rangsangan. Atau, pengalaman sensorik yang palsu.
Misalnya, penderita mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada, sehingga
penderita berbicara atau tertawa sendiri untuk merespons suara tersebut. Delusi
adalah suatu perasaan kepercayaan atau keyakinan yang keliru, yang tidak dapat
diubah dengan penalaran atau dengan jalan penyajian fakta. Misalnya, penderita
menganggap dirinya kaya dengan memakai perhiasan di tubuhnya, tetapi sebenarnya
ia miskin dan memakai perhiasan dari buahbuahan bukan dari emas permata. Ilusi adalah
salah tafsiran dari tangkapan atau pengamatan pancaindera yang menyimpang.
Misalnya, penderita melihat air di jalan raya padahal sesungguhnya tidak ada,
sehingga ia main-main air di jalan tersebut. Bentuk-bentuk psikosis adalah
manic depressive psychosis, paranoia, schizophrenia,
paresis, dan alcoholic psychosis.
Sebagaimana
yang dijelaskan pada perspektif timbulnya gangguan mental di atas, tak satupun
dari uraiannya melihat aspek spiritual dan agama sebagai salah satu dari
perspektif timbulnya psikopatologi pada diri seseorang. Disadari atau tidak,
dalam perkembangan kehidupan manusia banyak ditemukan gangguan mental yang
disebabkan oleh faktor-faktor spiritual dan agama, misalnya kecemasan dan
keresahan yang terus menerus akibat perbuatan dosa dan maksiat, seperti
keresahan orang yang melahirkan anak dari hasil perzinaan. Selama anak itu
masih di hadapannya maka selama itu pula ia mengingat dosa yang diperbuat dan
mengakibatkan keresahan. Hal itu tentunya hanya dapat dijelaskan melalui
perspektif religius.
11.
Sumber
b)
Kaplan HI, Sadock BJ. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat.
Cetakan I. Jakarta: Widya Medika, 354 - 6.
c)
BS Syamsir, Yusuf S. 1993. Diklat Penuntun Kuliah Psikiatri.
Paket II. Edisi II. Bagian Psikiatri FK-USU. Medan, : 50 - 4.
e)
Muslim P. 1985. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan
Ringkasan dari PPDGJ III. Jakarta.
f)
Chaplin, J.P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada
g)
Maslim, Rusdi, ed.
1995. Buku Saku PPDGJ III. Jakarta :
“Obsessive-compulsive disorder,”
“Obsessive-compulsive disorder,”
h)
http://www.psychologytoday.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar