Selasa, 22 September 2015

NEUROSA OBSESIF-KOMPULSIF


NEUROSA OBSESIF – KOMPULSIF

1.      Pendahuluan

Ingin selalu memiliki hal-hal yang disenangi atau disayangi sesuatu yang normal. Tetapi jika keinginan itu sudah menjadi obsesi yang mengubah kepribadian, kita harus waspada dan lebih berhati-hati. Banyak orang yang menjadi tidak sadar bahwa dirinya telah mengalami Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Karena memang sangat tipis perbedaannya dengan obsesi yang sesungguhnya.

Gangguan obsesif-kompulsif adalah suatu contoh dan efek positif dimana penelitian modern telah menemukan gangguan didalam waktu singkat. Pada awal tahun 1980 an, gangguan obsesif-kompulsif dianggap sebagai gangguan yang jarang dan berespon buruk terhadap terapi. Sekarang diketahui bahwa gangguan obsesif-kompulsif sering ditemukan dan sangat responsif terhadap terapi.

2.      Definisi

Penyakit Obsesif-Kompulsif ditandai dengan adanya obsesi dan kompulsi.
Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu, yang tampaknya konyol, aneh atau menakutkan.
Kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi. Penyaki obsesif-kompulsif berbeda dengan kelainan kepribadian obsesif-kompulsif. Penyakit ini terjadi pada 2,3% dewasa.
Obsesi adalah pikiran, perasaan, ide atau sensasi yang mengganggu (intrusif). Kompulsif adalah pikiran atau perilaku yang disadari dibakukan dan rekuren.

Gangguan obsesi kompulsi dapat merupakan gangguan yang menyebabkan ketidak berdayaan karena dapat menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktifitas sosial yang biasanya, atau hubungan dengan teman dan anggota keluarga.

 

Adapun sifat-sifat obsesi kompulsi ialah :

1. Dorongan pikiran-pikiran tersebut mendesak diri ke alam sadar terus menerus.

2. Pasien menderita kecemasan dengan sukar untuk melawannya.

3. Tidak diingini oleh pasien.

4. Pikiran itu dirasakan tidak rasional tapi tetap dalam kesadarannya.

5. Pasien cenderung untuk secara kuat melawannya.

Menurut Kamus Lengkap Psikologi J.P Chaplin (2001), pengertian obsessive-compulsive neorosis yaitu :

suatu psiko-neurosa dengan ciri khas adanya ide (obsesi) yang tegar melekat dan sering tidak dikehendaki, serta impuls untuk melakukan kompulsi, atau perbuatan yang tidak rasional, stereotypis, dan ritualistis. Diyakini bahwa pola tingkah laku yang obsesi dan kompulsif itu merupakan usaha untuk mengatasi rasa takut atau untuk meredakan atau menghilangkan perasaan bersalah.

Dalam Pedoman Penggolongan dan Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi ke III, gangguan obsesif-kompulsif digolongkan dalam gangguan neurotik dengan kode F.42. Sedangkan dalam “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” edisi keempat (DSM-IV) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA), gangguan obsesif kompulsif digolongkan ke dalam kelompok gangguan kecemasan. Namun, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa gangguan obsesif kompulsif bertumpang tindih dengan depresi. Artinya, gangguan obsesif kompulsif berkaitan dengan perasaan negatif yang kuat, meliputi kecemasan dan juga kemurungan. Perasaan seperti rasa bersalah, rasa tidak berdaya, dan ketakutan irasional hampir selalu menyertai gangguan ini. Jadi, gangguan akan makin sulit diatasi bila perasaan yang menyertainya makin mengkristal.

 

Penyandang gangguan obsesif kompulsif sangat tersiksa oleh pikiran-pikiran yang terus menerus memaksanya melakukan tindakan tertentu secara berulang tanpa ia kehendaki. Pikiran yang terus berulang dan sulit ditepis ini yang disebut sebagal obsesi. Bila pikiran ini sudah diwujudkan dalam bentuk tindakan berulang –yang sebenarnya tidak perlu, tidakan inilah yang disebut kompulsi. Penderita biasanya menyadari bahwa tindakannya berlebihan dan menghambat aktivitas sehari-hari. Namun, kesadaran penderita akan ketidakefektivan perilakunya tak secara otomatis membuatnya mampu melepaskan diri dari tindakan-tindakan aneh ini. Ada kalanya usaha yang keras menghindarkan gangguan pikiran seperti ini justru mengakibatkan penderita makin terjebak dalam ritual yang mungkin lebih parah lagi.

Beberapa gangguan di otak, seperti misalnya infeksi, cedera, dan tumor otak dapat turut menyumbang terjadinya gangguan obsesif kompulsif. Selain itu, faktor genetik juga diduga memberi sumbangan sekitar 30 persen pada jumlah penderita gangguan ini. Faktor psikologis yang bisa menyebabkan ganguan obsesi kompulsif ini yaitu kecemasan yang sangat ekstrem dan traumatik sehingga menimbulkan obsesi yang berlanjut pada perilaku kompulsi.

Diperkirakan penderita gangguan obsesif kompulsif dialami oleh 2-3 persen dari populasi di seluruh dunia. Mereka yang hidup terpisah dari pasangannya, janda atau duda, dan penganggur mempunyai risiko lebih besar menderita gangguan ini. Gangguan obsesif kompulsif sering terpicu kemunculannya oleh peristiwa yang menimbulkan stres cukup besar bagi penderita, seperti misalnya terjadinya kehamilan, kematian kerabat dekat, dan sebagainya. Karena itu beberapa penderita mampu secara jelas mengisahkan sejak kapan mereka mulai melakukan perilaku ritual yang tidak menyenangkan ini.

Gangguan obsesif kompulsif biasanya telah menampakkan gejalanya pada saat penderita menginjak usia remaja atau dewasa awal. Meski demikian beberapa orang telah memunculkan gejalanya sejak usia kanak-kanak.

 

 

3.      Epidemiologi

Insidennya lebih kecil yaitu 5 % dari kasus neurosa. Insiden pada pria dan wanita adalah sama. Onset biasanya pada masa kanak-kanak atau dewasa muda yakni sekitar usia 25 tahun dan hanya 5 % onset pada usia 40 tahun ke atas. Sedangkan yang agak menarik adalah bahwa kaadaan ini banyak pada individu yang belum kawin yaitu sekitar 50 % dari kasus. Bila ditinjau dari segi sosio-ekonomi maka penderita ini banyak terdapat pada kelas ekonomi atas dengan Intellegensia yang tinggi.

4.      Etiologi

Penelitian terakhir memperkirakan bahwa gangguan obsesi dan kompulsi melibatkan masalah dalam komunikasi antara bagian depan batang otak (orbital cortex) dan struktur otak yang paling dalam (basal ganglia), struktur otak menggunakan hormon serotonin (hormon pengantar pesan). Diperkirakan tingkatan hormon serotonin ini tidak mencukupi dan terlihat menonjol dalam kasus gangguan obsesi dan kompulsi ini.

Janet (1903) mengatakan bahwa penyakit ini terjadi karena pengurangan energi mental yang patologis akibat terjadinya desintegrasi fungsi mental dalam fungsi mental yang lebih tinggi yaitu kehendak dan perhatian yang mengatur pikiran dan perbuatan. Bila fungsi mental yang lebih tinggi mengalami gangguan maka akan bekerja fungsi mental yang lebih rendah secara menonjol yang akan lebih berkuasa terutama emosi dan memori dan lepas dari kontrolnya.

Menurut teori psikoanalitik Dr. Frend dengan konsep Uncon Scious serta konflik intra-psikis. Ada tiga mekanisme pertahanan psikologis utama yang menentukan bentuk dan kualitas gejala-gejala sifat karakter obsesi dan konfulsi yaitu : isolasi, undoing dan reaksi formasi. Pada teori psikoanalisis klasik, gangguan obsesif-kompulsif dan merupakan suatu regresi dari fase perkembangan kepribadiannya terutama dalam fase anal-sadistik. Dianggap bahwa regresi merupakan mekanisme sentral dalam pembentukan gangguan obsesif-kompulsif ini.

 

Akibat dari regresi ini terjadi pula perubahan kualitas energi psikis berupa :

                                 1.         Ambivalence : pada obsesi kompulsif secara sadar, sayang dan benci selalu datang bersamaan.

                                 2.         Magical think : disini pasien lebih dikuasai oleh pikiran dan kejadian diluar dirinya. Hal ini diduga oleh karena pengaruh regresi.

                                 3.         Perubahan super ego disini pasien sangat mawas diri, sangat kritis sehingga ia menjadi cemas dengan apa yang dibuatnya, akibat terjadi ritual dan kompulsif sebagai suatu kontrol pencegahan. Gejala mulai dari tingkat yang enteng sampai yang berat.

Teori proses belajar (learning theory). Menurut teori ini, obsesif

adalah sebagai akibat conditioned stimulus yang disebabkan oleh anxiety. Dengan demikian terdapat tingkah laku yang dipelajari. Kelemahan teori ini adalah bahwa teori ini tidak dapat menerangkan mengapa ide-ide itu timbul terus.

5.        Gejala

           Obsesi yang umum bisa berupa kegelisahan mengenai pencemaran, keraguan, kehilangan dan penyerangan. Penderita merasa terdorong untuk melakukan ritual, yaitu tindakan berulang, dengan maksud tertentu dan disengaja.
Ritual dilakukan untuk mengendalikan suatu obsesi dan bisa berupa :

a.         mencuci atau membersihkan supaya terbebas dari pencemaran

b.        memeriksa untuk menghilangkan keraguan

c.         menimbun untuk mencegah kehilangan

d.        menghinidari orang yang mungkin menjadi obyek penyerangan.

 

 

Sebagian besar ritual bisa dilihat langsung, seperti mencuci tangan berulang-ulang atau memeriksa pintu berulang-ulang untuk memastikan bahwa pintu sudah dikunci. Ritual lainnya merupakan kegiatan batin, misalnya menghitung atau membuat pernyataan berulang untuk menghilangkan bahaya. Penderita bisa terobsesi oleh segala hal dan ritual yang dilakukan tidak selalu secara logis berhubungan dengan rasa tidak nyaman yang akan berkurang jika penderita menjalankan ritual tersebut.
Penderita yang merasa khawatir tentang pencemaran, rasa tidak nyamannya akan berkurang jika dia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Karena itu setiap obsesi tentang pencemaran timbul, maka dia akan berulang-ulang memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebagian besar penderita menyadari bahwa obsesinya tidak mencerminkan resiko yang nyata. Mereka menyadari bahwa perliku fisik dan mentalnya terlalu berlebihan bahkan cenderung aneh.
Penyakit obsesif-kompulsif berbeda dengan penyakit psikosa, karena pada psikosa penderitanya kehilangan kontak dengan kenyataan. Penderita merasa takut dipermalukan sehingga mereka melakukan ritualnya secara sembunyi-sembunyi. Sekitar sepertiga penderita mengalami depresi ketika penyakitnya terdiagnosis.


Simptom – simptom yang ditunjukan oleh penderita gangguan obsesi kompulsif, antara lain :

1.      adanya obsesi, yaitu ide – ide atau impuls yang berulang kali muncul dan menetap dalam pikiran yang biasanya tidak rasional. Misalnya tangan saya akan terkontaminasi penyakit maka saya harus mencucinya segera, atau saya mungkin tidak mengunci rumah dengan benar maka saya harus mengeceknya lagi. Biasanya obsesi ini akan diikuti oleh kompulsi untuk melakukan suatu perbuatan/perilaku. Dalam film itu Mr. Udall cemas dan takut jika tubuhnya kotor jika melakukan kontak dengan dunia di luar rumahnya.

2.        adanya kompulsi, yaitu perilaku akibat obsesi yang dilakukan berulang kali. Perilaku kompulsi yang sering ditemui adalah mencuci dan mengecek. Beberapa perilaku kompulsi lainnya dapat berupa mengulangi suatu perilaku, menghitung ulang, dan mengatur kembali suatu barang.

 

Kompulsi yang tampak dalam diri Mr. Udall, yaitu :

a.         menggunakan sarung tangan sekali pakai tiap keluar rumah

b.        mengunci pintu beberapa kali

c.         menyalakan lampu beberapa kali

d.        mencuci tangan dengan sabun lebih dari 2 kali

e.         selalu memilih jalan yang bersih

f.         tidak mau disentuh oleh orang lain

g.        membawa alat makannya sendiri yang sekali pakai, dan mengaturnya dalam posisi tertentu yang sama

h.        memiliki ritualitas jadwal kegiatan yang ketat, misalnya datang ke restoran pada jam yang sama, makanan yang sama, dan disajikan oleh pelayan yang sama.

Stressor atau kejadian yang membuat Mr. Udall mengalami gangguan obsesif kompulsif adalah pengalaman masa kecilnya dimana ayahnya tidak keluar kamar selama 11 tahun karena sebelumnya selalu memukul tangan Mr. Udall jika ia melakukan kesalahan dalam bermain piano. Pengalaman itu membuat Mr. Udall secara tidak sadar merasa sangat bersalah sehingga menjadi peristiwa traumatik dalam kehidupan Mr. Udall yang akhirnya menimbulkan perilaku obsesi-kompulsif.

Karakter Mr. Udall adalah pemarah, suka mencampuri urusan orang lain, kasar dalam berperilaku, berani mengganggu orang lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ini tampak ketika kursi tempat ia biasa duduk digunakan oleh orang lain, Mr. Udall mengganggu orang tersebut sampai ia berhasil mendapatkan kursi itu. Karakter lainnya yaitu suka berprasangka dan menyindir orang lain dengan kata – kata yang pedas. Mr. Udall juga seorang pecemburu, iri hati terhadap orang lain karena merasa tidak pernah beruntung, dan sulit memuji atau menilai kebaikan orang lain.

 

 

 

6.      Gambaran Klinis

Simtom-simtom kliniknya terdiri dari gangguan pada psikis dan tingkah laku.

Sikap obsesif yang umum ditemui adalah :

a.       Ketakutan terinfeksi kuman atau kotoran

b.      Membayangkan menyakiti diri sendiri atau orang lain

c.       Membayangkan kehilangan kendali dan bertindak agresif

d.      Membayangkan hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan seksual

e.       Ketakutan moral-moral relegius yang berlebihan

f.       Memiliki pikiran-pikiran terlarang/ tak lazim

g.      Keinginan agar segala sesuatunya pada tingkat amat sangat

h.      Keinginan untuk selalu bertanya, menjelaskan dan menegaskan sesuatu.

Kompulsif yang sering terjadi ialah mencuci tangan yang berlebihan, mandi, bersiram badan, menggosok gigi dan bersisir, upacara yang diulang, memeriksa pintu, kunci, oven, rem mobil, membersihkan pencemaran, menyentuh, menyusun dan mengatur benda, menghitung, menyusun dan mengumpulkan benda dan upaya untuk mencegah cedera terhadap diri sendiri atau orang lain.

7.      Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktifitas penderita.

 

 

 

Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal sebagai berikut :

a.       Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.

b.      Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.

c.       Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi    kepuasan atau kesenangan sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas.

d.      Gagasan, bayangan pikiran atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif dengan depresi. Penderita gangguan obsesif kompulsif sering kali juga menunjukkan gejala depresif dan sebaliknya penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama episode depresinya.

Diagnosis gangguan obsesif konfulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut timbul. Bila dari kedua tidak ada yang menonjol, maka lebih baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.

Gejala obsesif “sekunder” yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindroma Toerette, atau gangguan mental organik, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.

Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan penuturan penderita mengenai perilakunya.

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menyingkirkan penyebab fisik dan penilaian psikis dilakukan untuk menyingkirkan kelainan jiwa lainnya. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan wawancara berdasarkan kuosioner Skala Obsesif-Kompulsif Yale-Brown.

8.      Diagnosis Banding

Obsesif Kompulsif sebenarnya dapat sebagai simtpom saja pada beberapa gangguan, seperti pada : neurosa depresi, neurosa fobik, skizofrenia, lesi pada lobus temporalis, post encephalitis.

9.      Penatalaksanaan

a.       Psikoterapi

Menurut Harry Broswell, psikiater pada London Psychoterapy Association, penyimpangan ini bisa diobati dengan tatap muka dan membicarakan masalahnya dengan ahli. Pada tingkat tertentu, penderita akan diarahkan untuk mengerem ketakutannya hanya sebatas pikiran dan tak terwujud dalam tindakan yang berbahaya. Dengan kontak yang kontinu dan teratur dengan orang profesional yang tertarik simpatik dan mendorong pasien mungkin mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut.

Penelitian yang meneliti aktivitas otak yang dihubungkan dengan gangguan obsesif kompulsif telah menunjukkan bahwa baik obat-obatan dan terapi psikologis tanpa obat-obatan memiliki beberapa efek yang hampir sama pada batang otak orang-orang yang mengidap gangguan obsesif kompulsif. Namun efek-efek dari pengobatan bersifat menetap sedangkan efek obat-obatan cenderung menghilang ketika konsumsi obat-obatan dihentikan. Menurut beberapa psikiater, hal ini merupakan bukti yang cukup kuat bahwa psikologis atau pengobatan non obat dapat menyebabkan beberapa perubahan diotak yang dihubungkan dengan penghilangan gejala.(1)

b.      Terapi obat-obatan

Clomipramine merupakan obat standar untuk pengobatan gangguan obsesif kompulsif. Suatu obat trisiklik spesifik serotonin. Clomipramin dimulai dengan dosis 25 mg sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg/ hari dua sampai tiga hari sampai dosis maksimal 250 mg/ hari.

SSRI (Spesifik Serotonin Re-Upteke Inhibitor) yaitu fluoxeetine, sertraline (zoloft) dan paroxetine (paxi). SSRI digunakan sebagai obat pilihan pertama pada gangguan obsesif kompulsif.

Terapi pemaparan merupakan sejenis terapi perilaku yang bisa membantu mengatasi penyakit ini. Penderita dihadapkan kepada situasi atau orang yang memicu timbulnya obsesi, ritual maupun rasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman atau kecemasan secara bertahap akan berkurang jika penderita mencegah dirinya melakukan ritual selama dihadapkan kepada rangsangan tersebut.
Dengan cara ini, penderita memahami bahwa untuk menghilangkan rasa tidak nyaman tidak perlu melakukan ritual. Obat-obatan yang efektif untuk mengatasi penyakit obsesif-kompulsif adalah klomipramin, fluoksetin dan fluvoksamin.
Psikoterapi dilakukan agar penderita lebih memahami pertentangan batin yang mungkin melatarbelakangi terjadinya penyakit ini. Biasanya kombinasi dari psikoterapi dan obat-obatan merupakan pengobatan yang terbaik bagi penyakit obsesif-kompulsif.

Beberapa treatmen yang diberikan pada penderita gangguan obsesif kompulsif, yaitu :

1.      Terapi obat, Jika kita melihat film tersebut, Mr. Udall harus minum beberapa pil       obat dalam jangka waktu tertentu. Obat – obatan yang biasanya digunakan yaitu flouxetine (ProzacR), fluvoxamine (LuvoxR), and paroxetine (PaxilR). Fungsi obat – obatan tersebut yaitu mengurangi frekuensi perilaku obsesi dan kompulsif dengan mempengaruhi hormon serotonin.

2.      Terapi perilaku, Dalam terapi ini sangat dibutuhkan kerjasama penderita dengan terapis dan kesabaran penderita itu sendiri. Pendekatan yang sering digunakan adalah exposure and response prevention, dalam pendekatan ini penderita dikonfrontasikan dengan kecemasannya kemudian ketika perilaku obsesif kompulsif itu muncul maka perilaku tersebut harus dicegah sampai beberapa jam kemudian hingga kecemasannya menurun.

Contohnya kebiasaan mencuci tangan setelah menyentuh berbagai benda, penderita disuruh memegang benda – benda kemudian ketika perilaku mencuci tangan itu akan muncul segera dicegah dengan mengikat tangannya atau menghalangi perilaku mencuci tangan sampai keiinginannya tersebut hilang.

3.      Terapi kognitif, yaitu dengan mengubah kepercayaan dan pola pikir penderita yang negatif berkaitan dengan kecemasannya. Melalui terapi ini dibangun pola pikir yang positip dalam diri penderita sehingga kecemasannya dapat dihilangkan.

Treatmen yang diberikan tidak semuanya efektif bagi penderita Gangguan Obsesif Kompulsif, ada yang cocok dengan terapi perilaku, namun ada juga yang hanya cocok dengan obat-obatan atau kedua – duanya sekaligus. Treatmen juga bisa diberikan secara bertahap misalnya dengan terapi obat dulu untuk mengendalikan simpton – simptonnya setelah itu baru dilanjutkan dengan pemberian terapi perilaku.

Sosial support dari keluarga sangat dibutuhkan juga dalam treatmen penderita gangguan obsesif kompulsive ini misalnya memberikan perhatian dan kesabaran dalam berhubungan dengannya, membantu memberikan arahan yang positip dan menolak berpartisipasi dalam perilaku obsesif kompulsif penderita tersebut. Dalam film ini terlihat bahwa hubungan atau relasi dengan orang lain yang dekat dapat mengubah atau mengurangi perilaku obsesi kompulsifnya.

 

 

 

 

 

 

 

10.  Kesimpulan

Dengan demikian, neurosis dianggap sebagai suatu penyakit mental yang belum begitu mengkhawatirkan, karena ia baru masuk dalam kategori gangguan-gangguan, baik diakibatkan oleh susunan syaraf maupunkelainan perilaku, sikap, dan aspek mental lainnya. Gangguan-gangguan tersebut bisa berubah mengkhawatirkan apabila penderitanya menganggap enteng dan tidak berusaha mencari terapinya. Ciri utama neurosis ditandai dengan; (1) wawasan yang tidak lengkap mengenai sifat-sifat dari kesukarannya; (2) konflik; (3) reaksi kecemasan; (4) kerusakan parsial atau sebagian dari kepribadiannya; (5) seringkali disertai fobia, gangguan pencernaan, dan tingkah laku obsesif-kompulsif. Bentuk-bentuk neurosis adalah hysteria, reaksi kecemasan, neurasthenia, obsesif-kompulsif, dan fobia.

 

Sedang psikosis adalah suatu penyakit mental yang parah, dengan ciri khas adanya disorganisasi proses pikiran, gangguan dalam emosionalitas, disorientasi waktu, ruang dan person, dan dalam beberapa kasus disertai halusinasi, delusi, dan ilusi. Halusinasi adalah tangkapan atau persepsi dari salah satu pancaindera yang keliru karena tanpa disertai rangsangan. Atau, pengalaman sensorik yang palsu. Misalnya, penderita mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada, sehingga penderita berbicara atau tertawa sendiri untuk merespons suara tersebut. Delusi adalah suatu perasaan kepercayaan atau keyakinan yang keliru, yang tidak dapat diubah dengan penalaran atau dengan jalan penyajian fakta. Misalnya, penderita menganggap dirinya kaya dengan memakai perhiasan di tubuhnya, tetapi sebenarnya ia miskin dan memakai perhiasan dari buahbuahan bukan dari emas permata. Ilusi adalah salah tafsiran dari tangkapan atau pengamatan pancaindera yang menyimpang. Misalnya, penderita melihat air di jalan raya padahal sesungguhnya tidak ada, sehingga ia main-main air di jalan tersebut. Bentuk-bentuk psikosis adalah manic depressive psychosis, paranoia, schizophrenia, paresis, dan alcoholic psychosis.

 

 

 

Sebagaimana yang dijelaskan pada perspektif timbulnya gangguan mental di atas, tak satupun dari uraiannya melihat aspek spiritual dan agama sebagai salah satu dari perspektif timbulnya psikopatologi pada diri seseorang. Disadari atau tidak, dalam perkembangan kehidupan manusia banyak ditemukan gangguan mental yang disebabkan oleh faktor-faktor spiritual dan agama, misalnya kecemasan dan keresahan yang terus menerus akibat perbuatan dosa dan maksiat, seperti keresahan orang yang melahirkan anak dari hasil perzinaan. Selama anak itu masih di hadapannya maka selama itu pula ia mengingat dosa yang diperbuat dan mengakibatkan keresahan. Hal itu tentunya hanya dapat dijelaskan melalui perspektif religius.

 

11.  Sumber

 

a)      www.Google.com: Mitos Tentang Gangguan Obsesif kompulsif.

b)     Kaplan HI, Sadock BJ. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Cetakan I. Jakarta: Widya Medika, 354 - 6.

c)      BS Syamsir, Yusuf S. 1993. Diklat Penuntun Kuliah Psikiatri. Paket II. Edisi II. Bagian Psikiatri FK-USU. Medan,  : 50 - 4.

d)     www.Google.com: Rubrik Keluarga. 6 April 2010 : 18.

e)      Muslim P. 1985. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari PPDGJ III. Jakarta.

f)       Chaplin, J.P. 2001. Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

g)      Maslim, Rusdi, ed. 1995. Buku Saku PPDGJ III. Jakarta :
Obsessive-compulsive disorder,”

h)     http://www.psychologytoday.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar