MAKALAH
Kmb iiiSistem endokrin
“ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DIABETES
MELITUS”

disusun oleh :
Bumbun kiting
AKADEMI KEPERAWATAN HARUM
JAKARTA
2011/2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,karena atas berkat dan rahmat – Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Diabetes Melitus”.
Dalam
penyusunan makalah ini, tentunya tidak terlepas dari berbagai hambatan dan
kesulitan didalam pembuatan makalah ini. Namun berkat adanya
bimbingan dan arahan serta bantuan dari berbagi pihak akhirnya makalah ini
dapat diselesaikan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Ibu Rusmawati Sitorus, S.Pd, MA selaku
Direktur Akademi Keperawatan Harum Jakarta.
2. Ns. Ari Susiani, S. Kep selaku dosen pengajar
KMB III Sistem Endokrin.
3. Staff dan seluruh dosen Akademi Keperawatan
Harum Jakarta.
4. Orang tua saya atas doa dan dukungannya.
5. Teman – teman
mahasiswa/i Akademi Keperawatan Harum Jakarta yang saya cintai.
Penulis menyadari
bahwa dalam pembuatan makalah ini sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk menunjang kesempurnaan makalah
ini dimasa yang akan datang.
Akhir kata, penulis
mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan.
Jakarta, April 2012
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ......................................................................... 2
DAFTAR ISI ......................................................................... 3
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang ……………………………………………….. 5
B.
Tujuan Penulisan ……………………………………………….. 6
C.
Ruang Lingkup Penulisan ……………………………………………….. 6
D.
Metode Penulisan ……………………………………………….. 7
E.
Sistematika Penulisan ……………………………………………….. 7
BAB II : TINJAUAN
TEORITIS
A.
Anatomi
Fisiologi
1. Kelenjar
Pankreas .............................................................. 8
2. Fungsi
Pankreas .............................................................. 9
3. Pengaturan
Glukosa Darah .............................................................. 13
4. MetabolismeGlukosa .............................................................. 13
B.
Konsep Dasar
Diabetes Melitus
1. Pengertian .............................................................. 15
2. Klasifikasi .............................................................. 16
3. Etiologi .............................................................. 18
4. Tanda
dan gejala .............................................................. 19
5. Patofisiologi .............................................................. 20
6. Komplikasi .............................................................. 21
7. Penatalaksanaan .............................................................. 22
8. Pemeriksaan
Diagnostik .............................................................. 27
C.
Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian ................................................................ 29
2.
Diagnosa Keperawatan ................................................................ 31
3.
Perencana Keperawatan ................................................................ 31
BAB
IV : PENUTUP
A.
Kesimpulan ............................................................................ 41
B.
Saran ............................................................................ 41
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 42
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Diabetes
melitus adalah kelompok penyakit metabolik dikarakterisasikan dengan tingginya
tingkat glukosa didalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi
insulin, kerja insulin, atau keduanya (Smeltzer,
S & Bare. 2005).
Diabetes
melitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa
darah (hiperglikemia) mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan untuk berespon
terhadap insulin dan atau penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan insulin
oleh pankreas (Riyadi, Sujono. 2008).
Berdasarkan
hasil penelitian WHO pada tahun 2001 jumlah penderita DM di Indonesia mencapai
17 juta orang atau 8,6% dari 220 juta populasi penduduk negeri ini dan menurut penelitian
Departemen Kesehatan pada tahun 2001 penyakit DM menempati urutan keempat dunia
setelah India, China, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2001 tercatat 7,5%
penduduk Jawa dan Bali baik pria maupun wanita menderita DM (Wikipedia
Indonesia).
Berdasarkan
hal diatas maka kelompok tertarik untuk membuat makalah dengan judul ”Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Diabetes
Melitus”.
- Tujuan Penulisan
- Tujuan umum
Tujuan penulisan makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III Sistem Endokrin.
- Tujuan khusus
a)
Agar mahasiswa mampu melakukan
pengkajian pada klien dengan diabetes melitus.
b)
Agar mahasiswa mampu menentukan diagnosa keperawatan pada klien
dengan diabetes melitus.
c)
Agar
mahasiswa mampu merencanakan dan
melaksanakan tindakan
keperawatan pada klien dengan diabetes melitus.
d)
Agar
mahasiswa dapat melakukan evaluasi pada klien dengan diabetes melitus.
C. Ruang Lingkup
Adapun
ruang lingkup dalam makalah ini yaitu pembahasan tentang Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus.
- Metode
Penulisan
Metode
penulisan dalam pembuatan makalah ini mengunakan studi kepustakaan yang
berhubungan dengan judul makalah ini dan melakukan pencarian melalui website
internet sebagai sumber dari makalah ini.
- Sistematika Penulisan
Dalam
penulisan makalah ini, makalah ini dibagi menjadi 3 BAB, yaitu : BAB I
PENDAHULUAN (Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Ruang Lingkup, Metode Penulisan,
Sistematika Penulisan), BAB II TINJAUAN TEORITIS (Anatomi Fisiologi : Kelenjar Pankreas, Fungsi Pankreas, Konsep
Dasar Diabetes Melitus : Pengertian, Klasifikasi,
Etiologi, Patofisiologi, Tanda dan
Gejala, Komplikasi, Pemeriksaan Diagnostik, Penatalaksanaan, Asuhan
Keperawatan : Pengkajian, Diagnosa
Keperawatan, Perencanaan Keperawatan), dan BAB III
PENUTUP (Kesimpulan dan Saran).
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
Anatomi Fisiologi
1.
Kelenjar
Pankreas
Pankreas adalah organ
pipih yang berada dibelakang lambung dalam abdomen, panjangnya kira – kira 20 –
25cm, tebal ± 2,5cm dan beratnya sekitar 8 gram, terbentang dari atas sampai ke
lengkungan besar dari abdomen dan dihubungkan oleh dua saluran ke duodenum. Struktur
organ ini lunak dan berlobulus, tersusun atas :
·
Kepala pankreas, merupakan bagian yang
paling lebar, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan didalam lekukan
duodenum yang praktis melingkarinya.
·
Badan pankreas, merupakan bagian utama
pada organ ini, letaknya dibelakang lambung dan didepan vertebra lumbalis
pertama.
·
Ekor pankreas, merupakan bagian yang
runcing disebelah kiri dan berdekatan/menyentuh limpa.
Kelenjar pankreas
tersusun atas dua jaringan utama yaitu Asini yang merupakan penyusun terbanyak
(80%) dari volume pankreas, jaringan ini penghasil getah pencernaan dan pulau –
pulau Langerhans (sekitar 1 juta pulau) yang menghasilkan hormon. Pulau
Langerhans merupakan kumpulan sel berbentuk ovoid dan tersebar diseluruh
pankreas tetapi lebih banyak pada ekor (kauda).
Kelenjar pankreas
mempunyai hubungan ke depan dari kanan ke kiri : kolon transversum dan
perlekatan mesocolon transversum, bursa omentalis dan gaster sedangkan ke
bagian belakang dari kanan ke kiri duktus choleduchus, vena portae hapatis dan
vena lienalis, vena cava inferior, aorta, pangkal arteri mesenterica superior,
muskulus psoas major sinistra, glandula suprarenalis.
Pankreas mempunyai dua
saluran utama yang menyalurkan sekresinya ke dalam duodenum, yaitu :
·
Duktus Wirsung atau duktus pankreatikus,
duktus ini mulai dari ekor/cauda pankreas dan berjalan sepanjang kelenjar,
menerima banyak cabang pada perjalanannya. Duktus ini yang bersatu dengan
duktus koledukus, kemudian masuk ke dalam duodenum melalui sphincter oddi.
·
Duktus Sartorini atau duktus
pankreatikus asesori, duktus ini bermuara sedikit diatas duktus pankreatikus pada
duodenum.
Aliran darah yang
memperdarahi pankreas adalah arteria lienalis dan arteri pankreatikoduodenalis
superior dan inferior. Sedangkan pengaturan persarafan berasal dari serabut –
serabut saraf simpatis dan parasimpatis saraf vagus.
2. Fungsi Pankreas
Kelenjar pankreas
mempunyai dua fungsi utama yaitu fungsi eksokrin dan fungsi endokrin.
a.
Fungsi eksokrin
Kelenjar pankreas
hampir 99% tersusun dari sel asini yang merupakan penghasilkan getah pankreas
atau cairan pankreas.Setiap hari pankreas menghasilkan 1200 – 1500mL cairan. Cairan
pankreas jernih dan tidak berwarna, mengandung air, beberapa garam, sodium
bikarbonat dan enzim – enzim. Cairan pankreas bersifat alkali (pH : 7.1 – 8.2)
karena mengandung sodium bikarbonat. Keadaan pH ini akan menghambat gerak
pepsin dari lambung dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan enzim – enzim
dalam usus halus. Enzim – enzim pada pankreas dihasilkan oleh sel – sel asinar,
fungsinya membantu pemecahan protein, karbohidrat dan lemak.
Enzim – enzim yang berperan
dalam pencernaan protein atau proteolitik diantaranya tripsin, kimotripsin dan
karboksipeptidae. Enzim – enzim yang diproduksi dalam sel – sel pankreas dalam
bentuk tidak aktif yaitu tripsinogen, kimotripsinogen, dan
prokarboksipeptidase.
Setelah disekresi ke
dalam saluran pencernaan, zat tersebut diaktifkan, tripsinogen diaktifkan oleh
enzim enterokinase yang dihasilkan oleh mukosa usus menjadi tripsin,
kimotripsinogen diaktifkan oleh tripsin menjadi kimotripsin, demikian juga
terjadi pada prokarboksipeptidase.
Enzim yang membantu
pencernaan karbohidrat adalah amilase yang menghidrolisis pati, glikogen, dan
karbohidrat.Sedangkan enzim untuk pencernaan lemak adalah lipase pankreas
menghidrolisis lemak netral menjadi gliserol, asam lemak dan kolesterol.
Pengaturan produksi
dari cairan pankreas dilakukan oleh pengaturan saraf dan pengaturan hormonal. Pengaturan
saraf terjadi bila adanya stimulus dari fase sefalik dan sekresi lambung
terjadi maka impuls parasimpatis secara serentak dihantarkan sepanjang nervus
vagus ke pankreas dan mengakibatkan produksi cairan pankreas. Sedangkan
pengaturan hormonal terjadi akibat stimulasi hormon sekretin dan kolesistokinin
yang menyebabkan peningkatan sekresi enzim.
b.
Fungsi endokrin
Kelenjar endokrin dalam
pankreas adalah pulau Langerhans yang menghasilkan hormone. Hormon merupakan
zat organik yang mempunyai sifat khusus untuk pengaturan fisiologis terhadap
kelangsungan hidup suatu organ atau sistem. Sel – sel pulau Langerhans tersusun
atas sel Alfa yang menghasilkan glukagon, sel – sel Beta yang menghasilkan
insulin, sel Delta yang menghasilkan somatostatin atau Growth Hormone –
Inhibiting Hormone (GH – IH) dan sel F yang menghasilkan polipeptida
pankreatik.
1)
Hormon glukagon
Molekul glukagon
merupakan polipeptida rantai lurus yang mengandung residu asam amino. Sasaran
utama glukagon adalah hati, yaitu dengan mempercepat konversi glikogen dalam
hati dari nutrisi lainnya seperti asam amino, gliserol dan asam laktat menjadi
glukosa (glukoneogenesis).
Sekresi glukagon secara
langsung dikontrol oleh kadar gula darah melalui system feed back negative. Ketika gula darah menurun maka akan
merangsang sel – sel alfa untuk mensekresi glukagon, demikian juga sebaliknya
jika gula darah meningkat maka produksi glukagon akan dihambat. Hambatan produksi glukagon juga disebabkan karena
hormon somatostatin. Secara umum fungsi dari glukagon adalah merombak glikogen
menjadi glukosa, mensintesis glukosa dari asam laktat dan dari molekul non
karbohidrat seperti asam lemak dan asam amino (glukoneogenesis) serta
pembebasan glukosa ke darah oleh sel – sel hati.
2)
Hormon insulin
Hormon ini dihasilkan
oleh sel beta pulau Langerhans pada pankreas, merupakan hormon peptide yang
tersusun oleh dua rantai asam amino yaitu rantai A dan rantai B dan dihubungkan
melalui jembatan disulfida. Insulin dibentuk di retikulum endopalsma sel B,
kemudian dipindahkan ke apparatus golgi selanjutnya ke membran plasma dan akan
melintasi lamina basalis sel B serta kapiler dan endotel apiler yang berpori
untuk mencapai aliran darah. Insulin diproduksi dalam jumlah sedikit dan
meningkat ketika makanan dicerna. Pada orang dewasa rata – rata diproduksi 40 –
50 unit (Reeves. 1997).
Insulin berfungsi
memfasilitasi dan mempromosikan transport glukosa melalui membran plasma sel
dalam jaringan tertentu/target seperti pada jaringan otot dan adipose. Tidak
adanya insulin maka glukosa tidak dapat menembus sel. Glukosa sendiri digunakan
sebagai untuk kebutuhan energi dan sebagian lagi disimpan dalam bentuk glikogen.
Insulin juga berfungsi mendorong masuknya glukosa dalam sel lemak jaringan
adipose untuk dijadikan gliserol. Gliserol bersama asam lemak membentuk
trigliserida, suatu bentuk lemak untuk disimpan.Insulin juga berperan dalam
menghambat perombakan glikogen menjadi glukosa dan konversi asam amino atau
asam lemak menjadi glukosa. Peningkatan kadar insulin mempunyai efek pada
penurunan kadar glukosa darah (hipoglikemia) (normal kadar gula darah 70 – 110mg/dl).
Jika kadar insulin
rendah mengakibatkan peningkatan kadar guula darah (hiperglikemia) seperti yang
terjadi pada penyakit Diabetes Melitus.
Secara umum fungsi
insulin diantaranya :
·
Transport dan metabolisme glukosa untuk
energi.
·
Menstimulus penyimpanan glukosa dalam
hati dan otot dalam bentuk glikogen.
·
Memberikan peringatan kepada hati untuk
berhenti memecahkan glikogen menjadi glikogen.
·
Membantu penyimpanan lemak dalam
jaringan adiposa.
·
Mempercepat transport asam amino ke
dalam sel.
·
Insulin juga bekerja menghambat
pemecahan cadangan glukosa, protein dan lemak.
Sekresi insulin
dikontrol oleh mekanisme kimia, hormonal dan persarafan. Produksi insulin
meningkat oleh adanya peningkatan kadar gula darah, asam amino (seperti
arginine dan lysine), serum lemak bebas. Peningkatan hormon – hormon
gastrointestinal juga memicu peningkatan insulin, disamping adanya stimulasi
saraf parasimatetik. Sedangkan yang menghambat produksi insulin adalah
rendahnya kadar gula darah (hipoglikemia), keadaan kadar insulin yang tinggi
yang sudah ada, stimulasi saraf simpatis dan prostaglandin.
3)
Somatostatin atau Growth Hormone –
Inhibiting Hormone (GH – IH)
Somatostatin diproduksi
oleh sel delta, yang merupakan hormon yang penting dalam metabolisme
karbohidrat, lemak dan protein (keseimbangan pencernaan). Hormon ini juga
diproduksi hypothalamus. Hormon somatostatin pankreas menghambat produksi
hormon pertumbuhan, menghambat sekresi gastrin dalam lambung serta menghambat
produksi hormon – hormon yang dihasilkan oleh pankreas seperti glukagon dan
insulin sehingga mencegah terjadi kelebihan sekresi insulin. Sekresi
somatostatin dari pulau Langerhans meningkat oleh glukosa, asam amino tertentu.
4)
Polipeptida pankreatik
Hormon ini dihasilkan
sel F, mempunyai efek menghambat kontraksi kandung empedu, pengaturan enzim –
enzim pankreas dan berpengaruh terhadap laju absorpsi nutrient oleh saluran
pencernaan.
3. Pengaturan Glukosa Darah
Glukosa merupakan unsur
nutrien utama yang langsung dapat digunakan untuk metabolisme sel. Pada keadaan
normal gula darah dipertahankan antara 70 – 110mg/dl. Selama periode puasa
pankreas secara terus – menerus mensekresi insulin dalam jumlah sedikit,
sementara hormon glukagon dilepaskan ketika kadar gula darah menurun dan
menstimulasi hati untuk melepaskan cadangan glukosanya. Sehingga hormon insulin
dan glukagon bersama – sama berperan dalam mempertahankan kadar gula darah.
Setelah 8 – 12 jam tanpa makanan, hati memecah glikogen dari non karbohidrat,
termasuk asam amino menjadi glukosa, yang kemudian dimanfaatkan sel untuk
metabolisme dan energi sel.
4. Metabolisme Glukosa
Glukosa dari karbohidrat
tersusun atas unsur karbon, hidrogen
dan oksigen, merupakan unsur untuk energi tubuh. Metabolisme glukosa melibatkan
proses kimia dan tergantung adanya hotmon insulin,glukagon, adrenokortikotropik
hormon (ACTH) dan glukokortikoid. Hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan
glukokortikoid dihasilkan oleh korteks adrenal dan berperan dalam menstimulasi
konversi dari protein menjadi glukosa. Seperti pada metabolisme yang lain,
metabolisme karbohidrat juga terdapat fase penguraian (katabolisme) dan fase
sintesis (anabolisme). Katabolisme glukosa adalah proses pemecahan glukosa
menjadi molekul – molekul kecil yang digunakan untuk energi.Ada tiga proses katabolisme
glukosa, yaitu :
a.
Glikolisis merupakan proses awal dari
katabolisme glukosa, merupakan pemecahan glukosa menjadi komponen yang lebih
kecil untuk cadangan energi.
b.
Siklus Krebs, melalui proses ini glukosa
akan dipecah menjadi karbondioksida, air dan energi.
c. Glikogenolisis
yaitu proses dimana glikogen diubah menjadi
glukosa di hati. Proses ini akan meningkatkan kadar glukosa dalam darah.
Sedangkan proses anabolisme terjadi melalui proses :
a. Glikogenesis
atau sintesis glikogen merupakan proses pembentukan glikogen dari glukosa,
fruktosa atau galaktosa. Mekanisme proses ini sangat tergantung adanya insulin.
b. Glukoneogenesis
adalah proses pengubahan dari asam amino, piruvat, dan laktat menajadi glukosa
atau glikogen untuk digunakan cadangan energi sel. Tubuh melakukan proses ini
pada saat puasa.
Secara umum metabolisme karbohidrat dilakukan mekanisme
:
·
Transport aktif glukosa sel dan
metabolisme glukosa untuk energi.
·
Penyimpanan glukosa tidak segera
dilakukan seperti pada glikogen atau lemak tetapi lebih diutamakan untuk
kebutuhan energi lebih dahulu.
·
Pemecahan glikogen menjadi glukosa
terjadi apabila glukosa darah turun.
·
Pengubahan protein menjadi glukosa
apabila glikogen dan glukosa habis dan energi dibutuhkan.
·
Karbohidrat, protein dan lemak merupakan
cadangan energi tubuh.
Tubuh menggunakan karbohidrat untuk energi dan jarang
menggunakan protein dan lemak, kecuali jika pemasukan/intake karbohidrat
kurang, tubuh kekurangan insulin untuk membantu masuknya glukosa dalam
sel, tubuh mempunyai cadangan lebih glikogen.
Karbohidrat tidak dapat dimanfaatkan untuk energi ketika
gula darah rendah dan cadangan glikogen tidak ada, tidak adanya insulin atau
kekurangan reseptor insulin. Pada keadaan ini tubuh akan menggunakan protein
dan lemak kebutuhan energi. Lemak akan dimetabolisme di hati menjadi keton dan
beredar ke sirkulasi darah, jika terjadi kelebihan keton dalam darah
mengakibatkan ketoasidosis dan koma.
B.
Konsep Dasar Diabetes Melitus
1.
Pengertian
Diabetes Melitus (DM)
merupakan penyakit gangguan metabolisme kronis yang ditandai peningkatan
glukosa darah (hiperglikemia), disebabkan karena ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan insulin.
Diabetes melitus adalah
kelompok penyakit metabolik dikarakterisasikan dengan tingginya tingkat glukosa
didalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi insulin, kerja
insulin, atau keduanya (American Diabetes Association (ADA), Expert Commite on
the Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus. 2003 ; dikutip dari e –
book Smeltzer, S & Bare. 2005).
Diabetes mellitus
adalah penyakit kronik, progresif yang dikarakterisasikan dengan ketidakmampuan
tubuh untuk melakukan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein awal
terjadinya hiperglikemia (kadar gula yang tinggi dalam darah) (Black &
Hawk. 2009).
Menurut Suyono (2007),
diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan
insulin baik absolut maupun relatif.
Diabetes melitus adalah
sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah
(hiperglikemia) mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan untuk berespon
terhadap insulin dan atau penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan insulin
oleh pankreas (Riyadi, Sujono. 2008).
Diabetes melitus adalah sindrom yang
disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan dan suplai insulin. Sindrom
ini ditandai oleh hiperglikemia dan berkaitan dengan abnormalitas metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein. Abnormalitas metabolik ini mengarah pada
perkenbangan bentuk spesifik komplikasi ginjal, okular, neurologik, dan
kardiovaskular (Hotma Rumahorbo. 1999).
2.
Klasifikasi
Diabetes Melitus
Menurut WHO, 1985 dan amerikan diabetes association,
2003, penyakit DM diklasifikasikan menjadi :
a.
Diabetes melitus tipe 1 atau insulin dependent
melitus (INDDM) yaitu DM yang bergantung insulin jadi pada 5% s.d 10% penderita
DM. Pasien sangat tergantung insulin melalui penyuntikan untuk mengendalikan
gula darah.
Diabetes tipe 1
disebabkan karena kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin. Hal
ini berhubungan dengan kombinasi antara faktor genetik, immunologi dan kemungkinan
lingkungan, seperti virus. Terdapat juga hubungan terjadinya diabetes tipe 1
dengan beberapa antigen leukosit manusia (HLAs) dan adanya autoimun antibody sel islet (ICAs) yang dapat merusak sel – sel
beta pankreas.
Peningkatan gula darah
yang lebih dari 180 mg/100ml, menyebabkan glukosa keluar melalui urine
(glukosuria), hal ini disebabkan karena ketidakmampuan ginjal menyerap kembali
glukosa (reabsorpsi) yang telah difiltrasi melebihi ambang batas filtrasi
glukosa oleh glomelurus. Ketika glukosa berlebihan disekresi disertai
pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan karena tubulus ginjal tidak
mereabsorpsi air secara optimal, keadaan ini disebut diuresis osmotik, sebagai
akibat kebanyakan urine yang diproduksi
maka akan mengalami peningkatan berkemih (poliuria) serta rasa haus
(polidipsia). Defisiensi urine juga mengganggu metabolisme protein dan lemak
dan menurunkan simpanan/cadangan makanan, mengakibatkan kelaparan sel dan
merangsang selera makan (polifagia).
Pada diabetes tipe 1
sangat beresiko terjadinya koma diabetikum, akibat adanya ketoasidosis. Keadaan
ini disebakan karena adanya ekselerasi kata bolisme lemak, disertai pembentukan
badan keton dan penurunan sintesis asam lemak dan trigleserida. Makanan yang
dimakan secara normal 5% akan diubah menjadi glikogen dan 30 – 40% diubah
menjadi lemak dijaringan adipose, disamping dimanfaatkan untuk metabolisme yang
menghasilkan CO2 dan H2O.
b.
Diabetes melitus tipe 2 atau non insulin
dependent diabetes melitus (NIDDM) yaitu DM yang tidak tergantung pada insulin.
Kurang lebih 90 – 95% penderita DM adalah diabetes tipe ini. DM tipe 2 terjadi
akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat
penurunan produksi insulin. Normalnya insulin terikat oleh reseptor khusus pada
permukaan sel dan mulai terjadi rangkaian reaksi termasuk metabolisme glukosa.
Faktor resiko DM tipe 2
:
1)
Usia diatas 45 tahun, jarang DM trejadi
pada usia muda.
2)
Obesitas, berat badan lebih dari 120%
dari berat badan ideal (kira – kira terjadi pada 90%).
3)
Riwayat keluarga dengan DM tipe 2.
4)
Riwayat adanya gangguan toleransi
glukosa (IGT) atau ganggun glukosa puasa (IFG).
5)
Hipertensi lebih dari 140/90 mmHg atau
hiperlipidemia, kolestrol atau
trigliserida lebih dari 150 mg/dl.
6)
Riwayat gestasional DM atau riwayat
melahirkan bayi diatas 4 kg.
7)
Polycystic ovarium syndrom yang
diakibatkan resistensi dari insulin. Pada keadaan ini wanita tidak terjadi
ovulasi (keluarnya sel telur dari ovarium), tidak terjadi menstruasi, tumbuhnya rambut secara
berlebihan, tidakbisa hamil.
c.
Diabetes malnutrisi
Golongan diabetes ini
terjadi akibat malnutrisi, biasanya pada penduduk yang miskin. Diabates tipe
ini dapat ditegakkan jika ada 3 gejala dari gejala yang mungkin yaitu :
1)
Adanya gejala malnutrisi seperti badan
kurus, berat badan kurang dari 80% berat badan ideal.
2)
Adanya tanda – tanda malabsorpsi makanan.
3)
Usia antara 15 – 40 tahun.
4)
Memerlukan insulin untuk regulasi DM dan
menaikkan
beratbadan.
d.
Diabetes
sekunder yaitu DM yang berhubungan
dengan
keadaan
atau
penyakit
tertentu, misalnya
penyakit
pankreas (pankreatitis,
neoplasma, trauma/pankreatectomy), endokrinopati (akromegali, Cushing’s
Syndrome, pheochromacytoma, hyperthyroidism), obat – obatan
atau
zat
kimia (glukokortikoid,
hormontiroid, dilantin, nicotinic acid), penyakit
infeksi
seperti
kongenital rubella, infeksi
cytomegalovirus, serta sindrom genetik diabetes seperti Syndrome Down.
e.
Diabetes
mellitus gestasional yaitu DM yang terjadi
pada
masa
kehamilan, dapat
didiagnosa
dengan
menggunakan test toleran
glukosa, terjadi
pada
kira – kira 24 minggu
kehamilan. Individu
dengan DM gestasional 25%
akan berkembang menjadi DM.
3.
Etiologi
Penyebab resistensi
insulin pada diabetes sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor yang banyak
berperan antara lain :
a.
Kelainan genetik
Diabetes dapat menurun
menurut silsilah keluarga yang mengidap diabetes. Ini terjadi karena DNA pada
orang diabetes melitus akan ikut diinformasikan pada gen berikutnya terkait
dengan penurunan produksi insulin.
b.
Usia
Umumnya manusia
mengalami penurunan fisiologis yang secara dramatis menurun dengan cepat pada
usia setelah 40 tahun. Penurunan ini yang akan berisiko pada penurunan fungsi
endokrin pankreas untuk memproduksi insulin.
c.
Gaya hidup stress
Stress kronis cenderung
membuat seseorang mencari makanan yang cepat saji yang kaya pengawet, lemak dan
gula. Makanan ini berpengaruh besar terhadap kerja pankreas. Stress juga akan
meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan sumber energi
yang berakibat pada kenaikan kerja pankreas. Beban yang tinggi membuat pankreas
mudah rusak hingga berdampak pada penurunan insulin.
d.
Pola makan yang salah
Kurang gizi atau
kelebihan berat badan sama – sama meningkatkan resiko terkena diabetes.
Malnutrisi dapat merusak pankreas, sedangkan obesitas meningkatkan gangguan
kerja atau resistensi insulin. Pola makan yang tidak teratur dan cenderung
terlambat juga akan berperanan pada ketidakstabilan kerja pankreas.
e.
Obesitas
Obesitas mengakibatkan
sel – sel beta pankreas mengalami hipertropi yang akan berpengaruh terhadap
penurunan produksi insulin. Hipertropi pankreas disebabkan karena peningkatan
beban metabolisme glukosa pada penderita obesitas untuk mencukupi energi sel
yang terlalu banyak.
f.
Infeksi
Masuknya bakteri atau virus ke
dalam pankreas akan berakibat rusaknya sel – sel pankreas. Kerusakan ini
berakibat pada penurunan fungsi pankreas.
4.
TandadanGejala
a.
Sering kencing/miksi atau meningkatnya frekuensi
BAK (poliuria) :
Adanya hiperglikemia menyebabkan
sebagian glukosa dikeluarkan oleh ginjal bersama urin karena keterbatasan kemampuan
filtrasi ginjal dan kemampuan reabsorpsi dari tubulus ginjal. Untuk mempermudah
pengeluaran glukosa maka diperlukan banyak air, sehingga frekuensi miksi menjadi
meningkat.
b.
Meningkatnya rasa haus (polydipsia) :
Banyaknya miksi menyebabkan
tubuh kekurangan cairan (dehidrasi), hal ini merangsang pusat haus yang
mengakibatkan peningkatan rasa haus.
c.
Meningkatnya rasa lapar (polipagia) :
Meningkatnya katabolisme,
pemecahan glikogen untuk energi menyebabkan cadangan energi berkurang, keadaan ini
menstimulasi pusat lapar.
d.
Penurunan berat badan :
Penurunan berat badan disebabkan
karena banyaknya kehilangan cairan, glikogen cadangan trigliserida serta massa otot.
e.
Kelainan pada mata, penglihatan kabur :
Pada kondisi kronis,
keadaan hiperglikemia menyebabkan aliran darah menjadi lambat, sirkulasi ke vaskuler
tidak lancar, termasuk pada mata yang dapat merusak retina serta kekeruhan pada
lensa.
f.
Kulit gatal, infeksi kulit, gatal –
gatal disekitar penis dan vagina :
Peningkatan glukosa darah
mengakibatkan penumpukan pula pada kulit sehingga menjadi gatal dan bakteri mudah
menyerang kulit.
g.
Ketonuria :
Ketika glukosa tidak lagi
digunakan untuk energi, maka digunakan asam lemak untuk energi, asam lemak akan
dipecah menjadi keton yang kemudian berada pada darah dan dikeluarkan melalui ginjal.
h.
Kelemahan dan keletihan :
Kurangnya cadangan energi,
adanya kelaparan sel, kehilangan potassium menjadi akibat klien mudah lelah dan
letih.
i.
Terkadang tanpa gejala :
Pada keadaan tertentu,
tubuh sudah dapat beradaptasi dengan peningkatan glukosa darah.
5.
Patofisiologi
Diabetes mellitus (DM)
merupakan kumpulan gejala yang kronik dan bersifat sistemik dengan
karakteristik peningkatan gula darah/glukosa atau hiperglikemia yang disebabkan
menurunnya sekresi atau aktivitas dari insulin sehingga mengakibatkan
terhambatnya metabolisme karbohidrat, protein dan lemak.
Glukosa secara normal bersikulasi
dalam jumlah tertentu dalam darah dan sangat dibutuhkan untuk kebutuhan sel dan
jaringan.
Pathways :
6.
Komplikasi
Klien dengan DM
beresiko terjadi komplikasi diantaranya :
a. Komplikasi akut :
1)
Koma
hiperglikemia
disebabkan
kadar
gula
sangat
tinggi
biasanya
terjadi
pada
NIDDM.
2)
Ketoasidosis
atau
keracunan
zat
keton
sebagai
hasil
metabolisme
lemak
dan protein terutama
terjadi
pada
IDDM.
3) Koma hipoglikemia akibat terapi insulin yang berlebihan
atau
tidak
terkontrol.
b. Komplikasi
kronis :
1)
Mikroangiopati
(kerusakan pada saraf – saraf perifer) pada organ – organ yang mempunyai
pembuluh
darah
kecil
seperti
pada :
a)
Retinopati
diabetika (kerusakan
saraf retina di mata)
sehingga mengakibatkan kebutaan.
b)
Neuropati
diabetika (kerusakan
saraf – saraf
perifer) mengakibatkan
baal/gangguan
sensori
pada organ tubuh.
c)
Nefropati
diabetika
(kelainan/kerusakan pada ginjal) dapat mengakibatkan gagal ginjal.
2)
Makroangiopati
a)
Kelainan
pada
jantung
dan
pembuluh
darah
seperti
miokardinfark
maupun
gangguan
fungsi
jantung
karena arteriosklerosis.
b)
Penyakit
vaskuler
perifer.
c)
Gangguan
sistem pembuluh darah otak atau stroke.
3) Ganggren
diabetik karena adanya neuropati dan terjadi luka yang tidak sembuh – sembuh.
4) Disfungsierektil
diabetika.
Angka kematian dan
kesakitan dari diabetes terjadi akibat komplikasi seperti karena :
a)
Hiperglikemia atau hipoglikemia.
b)
Meningkatnya resiko infeksi.
c)
Komplikasi mikrovaskuler seperti
retinopati, nefropati.
d)
Komplikasi neurofatik.
e) Komplikasi
makrovaskuler seperti penyakit jantung coroner, stroke.
7. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan
pasien dengan DM adalah :
·
Menormalkan fungsi dari insulin dan
menurunkan kadar glukosa darah.
·
Mencegah komplikasi vaskuler dan neuropati.
·
Mencegah terjadinya hipoglikemia dan
ketoasidosis.
Untuk mengontrol gula
darah, ada lima faktor penting yaitu :
·
Asupan makanan atau managemen diet.
·
Latihan fisik atau exercise.
·
Obat – obatan penurun gula darah.
·
Monitoring
a.
Management diet DM
Kontrol nutrisi, diet
dan berat badan merupakan dasar penanganan pasien DM. Tujuan yang paling
penting dalam managemen nutrisi dan diet adalah mengontrol total kebutuhan
kalori tubuh, intake yang dibutuhkan, mencapai kadar serum lipid normal.
Komposisi nutrisi dan diet DM adalah kebutuhan kalori, karbohidrat, lemak,
protein dan serat. Untuk menentukan status gizi dipakai rumus body mass index
(BMI) atau indeks massa tubuh (IMT) yaitu :
|
BMI atau IMT = BB (Kg)
s(TB
(m))2
|
Ketentuaan :
·
BB kurang : IMT <18.5
·
BB normal : IMT 18.5 – 22.9
·
BB lebih :
IMT > 23
·
BB dengan resiko : IMT 23 – 24.9
·
Obes 1 :
IMT 25 – 29.9
·
Obes 11 :IMT
> 30.0
Komposisi Makanan
Penukar (per penukar)
|
Kelompok
|
Karbohidrat
(g)
|
Protein
(g)
|
Lemak
(g)
|
Kkal
|
|
Tepung/roti
|
15
|
3
|
Sedikit
|
80
|
|
Daging
Kurus
Lemakmenengah
Lemak tinggi
|
0
0
0
|
7
7
7
|
3
5
8
|
55
75
100
|
|
Sayuran
|
5
|
2
|
0
|
25
|
|
Buah – buahan
|
15
|
0
|
0
|
60
|
|
Susu
Skim
Rendah lemak
Full cream
|
12
12
12
|
8
8
8
|
Sedikit
5
8
|
80
120
150
|
|
Lemak
|
0
|
0
|
5
|
45
|
Terapi nutrisi untuk mengendalikan
glukosa darah pada pasien – pasien DM Tipe 1 harus mencakup pedoman berikut ini
:
·
Makan makanan secara teratur (3 kali makanan
pokok dan 3 kali cemilan/hari dengan waktu yang kurang lebih sama setiap hari).
·
Makan makanan dengan jumlah kalori yang
adekuat untuk memungkinkan tumbuh – kembang yang normal.
·
Batasi asupan lemak dan kolesterol.
·
Batasi asupan gula sederhana termasuk
gula pasir, gula aren, madu, sirup jagung, dan mungkin pula fruktosa.
·
Meningkatkan asupan serat hingga 25
gram/hari.
·
Dapatkan/pertahankan BB normal/ideal.
·
Lakukan olahraga 1 jam sebelum makan
untuk meningkatkan pengendalian glukosa darah.
Preskripsi Diet
·
Makan 5 – 6 kali setiap hari pada waktu
yang kurang lebih sama dengan interval sekitar 3 jam dan terdiri atas 3 kali
makanan pokok serta 3 kali camilan. Saat makan harus disesuaikan dengan saat
penyuntikan insulin hingga kadar puncak insulin di dalam plasama sama dengan
kadar gula darah tertinggi sesudah makan. Umumnya dokter akan menentukan saat
pemberian insulin dan saat makan yang ditentukan menurut hasil pemantauan gula
darah setiap jam atau paling tidak pada saat sebelum dan sesudah makan.
·
Usahakan minum minuman yang bebas gula
dan kaya serat, seperti agar – agar, rumput laut, gelatin, kolang – kaling.
Jika minuman ini akan diminum bersama sirup, gunakan sirup diet yang menggunakan
pemanis seperti aspartam.
·
Pilihan camilan yang rendah lemak dan
rendah indeks gliseminya tetapi dengan indeks kekenyangan yang cukup tinggi
seperti sayuran rebus serta buah segar yang berserat dan tidak begitu manis,
pisang rebus, roti bekatul, kacang hijau (jangan ditambah gula pasir dan
santan, sebagai pengganti, gula diet dan susu diabetes) serta kacang – kacangan
lain, crackers dan makanan camilan tanpa kalori seperti agar – agar, koling –
kaling, rumput laut dll, yang bisa diminum dengan sirup khusus.
·
Biasakan memakan sereal tinggi serat
seperti hevermut sebagai sarapan (>6 gram) setiap pagi, hindari makanan
sereal yang banyak mengandung gula.
·
Biasakan memakan buah – buahan yang
segar, khususnya buah yang bisa dimakan bersama kulitnya seperti apel, peach,
belimbing, jambu, tomat. Buah – buahan manis yang biasanya terdapat dalam es
teler, seperti nangka, lengkeng durian serta sawo dan jenis – jenis pisang yang
manissedapat mungkin hindari atau paling tidak dibatasi konsumsinya.
·
Hindari kebiasaan makan buah – buahan
kaleng atau manisan yang direndam dalam sirup.
·
Minum susu rendah lemak (<1%) seperti
susu skim, susu kedelai sebagai pengganti susu full – cream untuk mengurangi
asupan lemak. Beberapa produk susu khusus diabetes, seperti diabetasol,
glucerna, nutren diabetes dan prolansia fiber yang mengandung serat larut, kini
sudah tersedia di pasaran, namun harganya mahal perlu menjadi pertimbangan.
·
Lakukan olahraga sebagai bagian dari
kegiatan sehari – hari. Kalau mungkin berjalan atau bersepeda ketika ke
sekolah. Olahraga tidak boleh dilakukan bila kadar gula darah tidak terkontrol
(>250 mg%) atau bila terdapat keton bodies dalam urine (karena bahaya
ketoasidosis).
·
Lakukan pemantauan kadar gula paling
tidak satu kali perhari.
Terapi nutrisi untuk mengendalikan
glukosa darah pada pasien – pasien DM Tipe 2 mencakup :
·
Jadwal makan yang teratur, jumlah kalori
dari makanan sesuai dengan kebutuhan, dan jenis makanan dengan indeks glikemik
yang tinggi harus dibatasi.
·
Asupan kolestrol <300 mg qd karena
pasien DM Tipe 2 menghadapi resiko tinggi karena penyakit kardiovaskuler. Pada
pasien diabetes dengan dislipedemia, asupan kolesterol bahkan harus <200 mg
per hari.
·
Asupan serat 25 gram/hari, meningkatkan
konsumsi serat pangan yang larut maupun tak larut.
·
Menghindari suplemen niasin yang
berlebihan karena dapat meningkatkan kadar glukosa darah. Suplemen ini biasanya
digunakan untuk mengendalikan kadar kolestrol darah.
·
Pengendalian berat badan.
·
Olahraga aerobik yang teratur.
·
Pemantauan kadar glukosa darah untuk
mempelajari masalahnya.
·
Makan 3 kali makanan utama dan 2 – 3
kali camilan per hari dengan interval waktu sekitar 3 jam.
·
Makan camilan yang rendah kalori dengan
indeks glikemik yang rendah dan indeks kekenyangan yang tinggi, seperti kolang
– kaling, cincau, agar – agar, rumput laut, pisang rebus, kacang hijau serta
kacang – kacangan lainnya, sayuran rendah kalori dan buah – buahan tidak manis
(apel, belimbing, jambu) serta alpukat. Makanan buah berserta, seperti apel dengan
kulitnya, setiap hari merupakan kebiasaan ngemil yang baik.
·
Hindari kebiasaan minum sari buah secara
berlebihan, khususnya pagi hari dan gantikan dengan minum berserat dari
kelompok sayuran yang rendah kalori seperti blender tomat, ketimun, dan labu siam
yang sudah direbus.
·
Sertakan rebusan buncis atau sayuran
yang lain dapat membantu mengendalikan glukosa darah dalam menu sayuran anda
sedikitnya dua kali dalam sehari. Buncis, bawang dan beberapa sayuran lunak
lainya (pare, terong, gambas, labu siam) dianggap dapat membantu mengendalikan
kadar glukosa dalam darah karena kandungan seratnya.
·
Biasakan sarapann dengan sereal tinggi
serat, seperti havermout kacang
hijau, jagung rebus, atau roti bekatul (whole
wheat bread) setiap hari.
·
Makanan pojkok biasanya bervariasai
antara lain nasi (sebaiknya nasdi beras merah/beras
tumbuk), kentang roti (sebaiknya roti bekatul/ whole wheat bread) dan jagung. Jangan menggabungkan dua atau lebih
makanan pokok seperti nasi dengan lauk mie goreng dan perkedel kentang (karena
ketiganya memiliiki indeks glikemik yang tinggi).
·
Hindari menambahkan gula pasir dalam
minuman (kopi, teh) dam makanan sereal.
·
Makanan camilan dan minuman bebas gula
yang tersedia di pasaran sepreti cookies diet, sirup diet, coke diet, dapat
digunakan jika diinginkan tetapi jangan mengkonsumsinya secara berlebihan.
Penyandang diabetes yang gemar memasak dapat membuat kue – kue basah seperti
wafel yang terdiri atas tepung gandum utuh, havermout, putih telur, susu skim
dan sedikit buah – buahan dengan aroma yang mengundang selera (misalnya nanas,
pisang goreng, stroberi).
·
Biasakan membuang lemak/gaji dari daging
sebelum memasaknya. Kurangi konsumsi daging merah yang dapat diganti dengan
daging putih seperti daging ayam atau ikan. Hindari kulit, kepala serta brutu
ayam dan daginh ikan yang berlemak karena kandun gan kolestrolnya yang tinggi
dalam bahan makanan hewani ini. Daging ikan yang berwarana gelap lebih banyak
mengandung lemak dibandingkan daging ikan yang putih.
·
Gunakan minyak goreng dalam jumlah
terbatas (kirang lebih setengah sendok teh untuk sekali makan). Biasakan
memasak dengan cara menumis, merebus, memepes, memanggang serta menanak, dan
hindari kebiasaan menggoreng makanan dengan banyakk minyak.
·
Biasakan makan mmakanan vegetarian pada
waktu santap malam.
·
Dalam membuat menu yang menggunkan
telur, setiap merah telur dapat diganti dengan susu skim, dan minyak diganti
dengan saus apel. Untuk menu yang memerlukan kecap, gunakan kecap diet dalam
jumlah terbatas.
·
Nasihat diet lainya dapat dimintakan
dari ahli gizi/diet
·
Biasakan berjalan sedikitnya 3 kali
seminggu selama >30 menit.
·
Khusus bagi penyandang DM yang ingin
berpuasa.
b. Latihan
Fisik/Exercise
Latihan fisik bagi
penderita DM sangat dibutuhkan, karena pada saat latihan fisik energi yang
dipakai adalah glukosa dan asam lemak bebas. Latihan fisik bertujuan untuk menurunkan gula darah
dengan meningkatkan metabolisme karbohidrat, menurunkan berat badan dan
mempertahankan berat badan normal,
meningkatkan
sensitifitas insulin dan menurunkan
tekanan darah.
Jenis latihan fisik diantaranya
adalah olahraga seperti latihan aerobik, jalan, lari, bersepeda, berenang.
Latihan pada pasien DM adalah frekuensi
intesitas, durasi waktu dan jenis latihan. Misalnya pada olahraga sebaiknya secara
teratur 3x/mg, dengan intensitas 60–70% dari heart rate maximum, lamanya 20–45 menit.
c. Obat
– obatan
1)
Obat antidiabetik oral atau oral
hypoglikemik agent (OH) efektif pada DM tipe II, jika managemen nutrisi dan
latihan gagal. Jenis obat – obatan antidiabetik
oral diantaranya :
·
Sulfonilurea : bekerja dengan merangsang
beta sel pankreas untuk melapaskan cadangan insulinnya.
·
Biguanida : bekerja dengan menghanmbat
penyerangan glukosa di usus, misalnya mitformin, glukophage.
2)
Pemberian hormon insulin.
3)
Pasien dengan DM tipe satu tidak mampu memproduksi
insulin dalam tubuhnya, sehingga sangat tergantung pada pemberian insulin.
Berdasarkan daya
kerjanya insulin dapat dibedakan menjadi :
·
Insulin dengan masa kerja pendek (2 – 4 jam)
seperti regular insulin, actrapid.
·
Insulin dengan masa kerja menengah (6 –
12 jam) seperti NPH (neutral protamine hagedorn)insulin, lente insulin.
·
Insulin dengan masa kerja panjang (18 – 24
jam) seperti protamine zinc insulin dan ultralante insulin.
·
Insulin campuran yaitu kerja cepat dan
menengah, misalnya 70% NPH, 30% regular.
Dosis insulin
ditentukan berdasarkan pada :
·
Kebutuhan pasien. Kebutuhan insulin
meningkat pada kadar sakit yang serius/parah, infeksi, menjalani operasi dan
masa pubertas.
·
Respon pasien terhadap insulin.
Pemberian insulin biasanya dimulai antara 0,5 dan 1 unit/Kg BB/hari.
Pemberian terapi
insulin dapat menyebabkan 1 atau lebih komplikasi diantaranya :
·
Hipoglikemia.
·
Hipertropi atau atropi jaringan.
·
Alergi insulin.
·
Resisten insulin
d. Pendidikan
Kesehatan
Hal penting yang harus
dilakukan pada pasien DM adalah pendidikan kesehatan. Beberapa hal yang
ppenting yang perlu disampaikan pada pasien DM adalah :
·
Penyakit DM yang meliputi pengertian,
tanda dan gejala, penyebab, patofisiologi dan test diagnosis.
·
Diet atau managemen diet pada pasien DM.
·
Aktivitas sehari – hari termasuk latihan
dan olahraga.
·
Pencegahan terhadap komplikasi DM
diantaranya penatalaksanaan hipoglekimia, pencegahan terhadap gangren pada kaki
dengan latihan senam.
·
Pemberian obat – obatan DM dan cara injeksi insulin.
·
Cara monitoring dan pengukuran glukosa
darah secara mandiri.
e. Monitoring
Glukosa Darah
Pasien dengan DM perlu
diperkenalkan tanda dan gejala hiperglikemia dan hipoglikemia serta yang paling
penting adalah bagaimana memonitor glukosa darah secara mandiri. Pemeriksaan
glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri dengan mengunakan glukometer.
Pemeriksaan ini penting untuk memastikan glukosa darah dalam keadaan stabil.
Cara mengukur glukosa
darah secara mandiri :
·
Siapkan alat glukometer, sesuaikan
antara glukometer dengan kode strip pereaksi khusus.
·
Pastikan kode pada glukometer sama
dengan kode strip pereaksi khusus.
·
Lakukan pengambilan darah dengan cara
menusuk stik pada ujung jari sehingga darah akan keluar.
·
Tempelkan darah yang sudah ada pada
ujung jari pada strip yang sudah siap pada glucometer.
·
Biarkan darah dalam strip selama 45 – 60
detik sesuai dengan ketentuan pabrik glucometer.
·
Hasil gula darah dapat dilihat pada
layar monitor glucometer.
8.
Pemeriksaan
Diagnostik
Untuk menentukan
penyakit DM, disamping dikaji tanda dan gejala yang dialami pasien juga yang
penting adalah dilakukan test diagnostik diantaranya :
a.
Pemeriksaan Gula Darah Puasa atau
Fasting Blood Sugar (FBS)
Tujuan :
Menentukan jumlah glukosa darah pada saat puasa
Pembatasan :
Tidak makan selama 12 jam sebelum test biasanya jam 08.00
pagi
sampai20.00 minum boleh
Prosedur :
Darah diambil dari vena dan kirim ke laboratorium
Hasil : Normal : 80 – 120 mg/100 ml serum
Abnormal :
140 mg /100 ml atau lebih
b.
Pemeriksaan Gula Darah Postprandial
Tujuan :
Menentukan gula darah setelah makan
Pembatasan : Tidak ada
Prosedur : Pasien diberi makan kira –kira 100 gr
karbohidrat, dua jam
kemudian diambil darah venanya
Hasil :
Normal : kurang dari 120 mg/100
ml serum
Abnormal :
Lebih dari 200 mg/100 ml atau lebih.
c.
Pemeriksaan toleransi glukosa/oral
glukosa tolerance test (TTGO)
Tujuan : Menentukan toleransi terhadap
respons pemberian glukosa
Pembatasan :
Pasien tidak makan 12 jam sebelum test dan selama test, boleh minum air putih, tidak merokok, ngopi atau
minum teh selama pemeriksaan (untuk mengukur respons tubuh terhadap karbohidrat),
sedikit aktivitas, kurangi stres (keadaan banyak aktivitas dan stres
menstimulasi epinehrine dan kortisol dan berpengaruh terhadap peningkatan gula
darah melalui peningkatan glukoneogenesis).
Prosedur :
Pasien diberi makanan tinggi karbohidrat selama 3 hari sebelum test, kemudian
selama 12 jam, ambil darah puasa dan urin untuk pemeriksaan. Berikan 100 gr
glukosa ditambah juice lemon melalui mulut, periksa darah dan urin ½, 1,2, 3, 4,
dan 5 jam setelah pemberian glukosa.
Hasil :
Normal : Pucuknya jam pertama
setelah pemberian
140mg/dl dan kembali normal 2 atau 3 jam
kemudian.
Abnormal :
Peningkatan glukosa pada jam pertama tidak
kembali setelah 2 atau 3 jam, urine positif glukosa.
d. Pemeriksaan
Glukosa Urine
Permeriksaan ini kurang
akurat karena hasil pemeriksaan ini banyak dipengaruhi oleh berbagai hal
misalnya karena obat–obatan seperti aspirin,vitamin C dan beberapa antibiotik,
adanya kelainan ginjal dan pada lansia dimana ambang ginjal meningkat. Adanya
glukosuria menunjukkan bahwa ambang ginjal terhadap glukosa terganggu.
e. Pemeriksaan
Ketone Urine
Badan ketone merupakan
produk sampingan proses pemecahan lemak, dan senyawa ini akan menumpuk pada
darah dan urine. Jumlah
ketone yang besar pada urine akan mengubah pereaksi pada strip menjadi
keungunan. Adanya ketonuria menunjukkan adanya ketoasidosis.
f.
Pemeriksaan Hemoglobin Glikat (HbA1c)
Pemeriksaan lain itu memantau rata –
rata kadar glukosa darah adalah glykosylated hemoglobin (HbA1c). Test ini
mengukur prosestasi glukosa yang melekat pada hemoglobin.
C.
Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a. Riwayat
penyakit sekarang
·
Sejak kapan klien mengalami tanda dan
gejala penyakit DM dan apakah sudah dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut.
·
Apakah pernah melahirkan bayi dengan BB
>4 kg.
·
Apakah pernah mengalami penyakit
pankreatitis, neoplasma, trauma/penreatectomy, penyakit infeksi seperti
kongenital rubella, infeksi cytomegalovirus, serta sindrom genetik diabetes
seperti Sindrom Down.
·
Penggunaan obat – obatan atau zat kimia
seperti glukokortikoid, hormone tiroid, dilantin, nicotinic acid.
·
Hipertensi >140/90 mmHg atau
hyperlipidemia, kolesterol atau trigliserida >150mg/dl.
·
Perubahan pola makan, minum dan
eliminasi urine.
·
Apakah ada riwayat keluarga dengan
penyakit DM.
·
Adakah riwayat luka lama sembuh.
·
Penggunaan obat DM sebelumnya.
b. Keluhan
utama klien saat ini
·
Nutrisi : peningkatan nafsu makan, mual,
muntah, penurunan atau peningkatan BB, banyak minum dan perasaan haus.
·
Eliminasi : perubahan pola berkemih
(poliuria), nokturia, kesulitan berkemih, diare.
·
Neurosensori : nyeri kepala,
parasthesia, kesemutan pada ekstremitas, penglihatan kabur, gangguan
penglihatan.
·
Integumen : gatal pada kulit, gatal pada
sekitar penis dan vagina, luka ganggren.
·
Muskuloskeletal : kelemahan dan
keletihan.
·
Fungsi seksual : ketidakmampuan ereksi
(impoten), regiditas, penurunan libido, kesulitan orgasme pada wanita.
c. Pemeriksaan
fisik
·
Pemeriksaan integumen : kulit kering dan
kasar, gatal – gatal pada kulit dan sekitar alat kelamin, luka ganggren.
·
Muskuloskeletal : kelemahan otot, nyeri
tulang, kelainan bentuk tulang, adanya kesemutan, paresthesia dankram
ekstremitas, osteomilitis.
·
Sistem persarafan : menurunnya
kesadaran, kehilangan memori, iritabilitas, parasthesia pada jari – jari tangan
dan kaki, neuropati pada ekstremitas, penurunan sensasi dengan pemeriksaaan
monofilamen, penurunan refleks tendon dalam.
·
Sistem pernapasan : napas bau keton,
perubahan pola napas.
·
Sistem kardiovaskuler : hipotensi atau
hipertensi, takikardia, palpitasi.
d. Test
diagnostik
1) Pemeriksaan
darah :
·
Pemeriksaan gula darah meningkat.
·
Peningkatan HgbA1c.
·
Kolesterol dan trigliserida meningkat.
·
Pemeriksaan albumin.
·
Pemeriksaan darah urea nitrogen (BUN)
dan kreatinin, pemeriksaan elekrolit.
2) Pemeriksaan
urine :
·
Glukosa urine meningkat.
·
Pemeriksaan keton dan albumin urine.
3) Rontgen
foto :
·
Rontgen dada untuk menentukan adanya
kelainan paru – paru.
·
Pemeriksaan angiografi, monofilament,
dopler pada luka ganggren.
4) Kultur
jaringan pada luka ganggren.
5) Pemeriksaan
organ lain yang mungkin terkait dengan komplikasi DM seperti pemeriksaan mata,
saraf, jantung, dll.
2.
Diagnosa
Keperawatan
a. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya produksi insulin.
b. Resiko
ketidakseimbangan cairan b/d hiperglikemia dan poliuria.
c. Resiko
kerusakan integritas kulit b/d neuropati sensori perifer, defisit fungsi
motorik, neuropati otonomik.
3.
Perencanaan
Keperawatan
a. Dx.
1 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya
produksi insulin.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama …x 24 jam, diharapkan masalah
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi.
Kriteria hasil :
·
Klien mengungkapkan tidak ada mual dan
nafsu makan baik.
·
BB klien dalam rentang normal.
·
Intake makanan sesuai dengan kebutuhan
tubuh.
·
Tidak ada tanda – tanda malnutrisi.
·
Nilai Hb dalam batas normal.
·
Kadar glukosa tubuh dalam rentang
toleransi.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Mandiri :
1)
Kaji status nutrisi klien.
|
Mandiri :
1)
Menentukan kebutuhan nutrisi
klien.
|
|
2)
Timbang BB klien dan lakukan
secara berkala 3 hari sekali sesuai indikasi.
|
2)
BB indikator status nutrisi
klien. Dapat menentukan BMI dan merencanakan terapi nutrisi.
|
|
3)
Ukur Body Massa Indeks klien.
|
3)
Menentukan kebutuhan nutrisi.
|
|
4)
Identifikasi faktor – faktor yang
memengaruhi status nutrisi klien.
|
4)
Banyak faktor yang memengaruhi
status nutrisi sehingga perlu diketahui penyebab kurang nutrisi dan
merencanakan pemenuhan nutrisi.
|
|
5)
Monitoring gula darah klien
secara periodik sesuai indikasi.
|
5)
Perubahan kadar gula darah dapat
terjadi setiap saat serta menentukan perencanaan kebutuhan kalori.
|
|
6)
Monitor nilai lab seperti
albumin, Hb, transferring, elektrolit.
|
6)
Penurunan albumin indikasi
penurunan protein, penurunan Hb indikasi penurunan eritrosit darah, penurunan
trasferring indikasi penurunan serum protein. Kadar otassium dan sodium
menurun pada malnutrisi.
|
|
7)
Monitor kadar serum lipid seperti
kolesterol total, low density lipoprotein (LDL) kolesterol, high density
lipoprotein (HDL) kolesterol, dan trigliserida.
|
7)
Peningkatan kadar lemak dapat
meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke.
|
|
8)
Kaji pengetahuan klien dan
keluarga tentang diet diabetik.
|
8)
Klien DM rentan terjadi
komplikasi sehingga klien dan keluarga harus memahami komplikasi akut dan
kronik.
|
|
9)
Kaji pola makan dan aktivitas
klien.
|
9)
Aktivitas latihan rutin membantu
menurunkan komplikasi penyakit jantung dan menurunkan kadar gula darah.
|
|
10)
Libatkan klien dan keluarga dalam
merencanakan kebutuhan nutrisi.
|
10)
Keluarga dan klien merupakan
subyek dan obyek yang dapat menentukan sesuai dengan sumber daya yang
dimiliki dan memberikan keyakinan rencana program nutrisi dapat dilaksanakan.
|
|
11)
Monitoring tanda – tanda adanya
hipoglikemia.
|
11)
Pemberian obat diabetik atau
insulin dapat menimbulkan hipoglikemia.
|
|
12)
Berikan dukungan yang positif
jika klien mampu melaksanakan program nutrisi dengan benar.
|
12)
Memberikan motivasi dan percaya
diri klien untuk melaksanakan program diet.
|
|
13)
Berikan pendidikan kesehatan
tentang diet DM, obat – obatan dan resiko tidak mentaati apa yang sudah
diprogramkan dan program aktivitas.
|
13)
Klien kooperatif dalam program
pemulihan status nutrisi.
|
|
Kolaborasi :
14)
Konsultasikan dengan ahli gizi
untuk mengidentifikasi dan merencanakan kebutuhan nutrisi klien.
|
Kolaborasi :
14)
Menentukan diet yang tepat bagi
klien dengan DM.
|
|
15)
Laksanakan program terapi seperti
pemberian antidiabetik atau insulin.
|
15)
Menurunkan kadar gula darah.
|
b. Resiko
ketidakseimbangan cairan b/d hiperglikemia dan poliuria.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam, diharapkan masalah resiko ketidakseimbangan
dapat teratasi.
Kriteria hasil :
Pola BAK normal.
Tidak ada tanda – tanda
dehidrasi.
Konsentrasi urine
normal.
BB klien stabil atau
tidak ada penurunan BB.
Intake cairan 1500 –
3000 mL/hari.
Kadar gula darah dalam rentang
toleransi.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Mandiri:
1)
Kaji pola eliminasi dan
konsentrasi urine, keadaan turgor kulit klien.
|
Mandiri :
1)
Menentukan status cairan tubuh.
|
|
2)
Timbang BB klien setiap hari.
|
2)
Penurunan BB mudah sekali terjadi
pada klien dengan kehilangan cairan.
|
|
3)
Monitor intake dan output cairan
klien.
|
3)
Menentukan kebutuhan dan
keseimbangan cairan tubuh. Defisit volume cairan menunjukkan penurunan
filtrasi glomerulus akan aliran darah ke ginjal yang dapat mengakibatkan
oliguria atau anuria.
|
|
4)
Anjurkan klien untuk minum dengan jumlah yang cukup
(1500 – 3000 mL).
|
4)
Pemenuhan kebutuhan cairan tubuh.
|
|
5)
Monitoring tanda – tanda vital.
|
5)
Kekurangan cairan dapat
menurunkan tekanan darah, sinus takikardia dapat terjadi pada hipovolemia.
|
|
6)
Monitoring keadaan albumin dan
elektrolit.
|
6) Penurunan
albumin indikasi penurunan protein, penurunan Hb indikasi penurunan eritrosit
darah, penurunan trasferring indikasi penurunan serum protein. Kadar potasium
dan sodium menurun pada malnutrisi.
|
|
Kolaborasi :
7)
Laksanakan program pengobatan
pemberian insulin atau obat diabetik.
|
Kolaborasi :
7) Menurunkan
kadar gula darah sehingga efektif dalam mengatasi poliuria.
|
c. Resiko
kerusakan integritas kulit b/d neuropati sensori perifer, defisit fungsi
motorik, neuropati otonomik.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam, diharapkan masalah resiko
kerusakan integritas kulit dapat teratasi.
Kriteria hasil :
Keadaan kulit jaringan
kulit utuh.
Neuropati tidak ada.
Tidak terjadi luka atau
ulkus diabetikum.
Vaskularisasi perifer
baik.
Tidak ada tanda – tanda
dehindrasi.
Kebersihan kulit baik,
keadaan kuku baik dan utuh.
Keadaan kaki utuh.
|
Intervensi
|
Rasional
|
|
Mandiri :
1)
Kaji penampilan atau keadaan dan
kebersihan kaki klien.
|
Mandiri :
1)
Kaki merupakan bagian tubuh yang
sering mengalami gangguan integritas kulit pada klien DM.
|
|
2)
Kaji keadaan kuku klien.
|
2)
Klien DM sering mengalami
gangguan imunitas sehingga infeksi jamur mudah terjadi, termasuk pada kuku.
|
|
3)
Kaji integritas kulit klien,
catat warna kulit, ada atau tidaknya ulserasi, dermatitis.
|
3)
Autonomik neuropati menyebabkan
kulit menjadi kering, kulit mudah pecah serta terjadi infeksi.
|
|
4)
Kaji keadaan dan bentuk kaki
apakah ada bentuk kaki charcot, cacat adanya pembentukan kalus.
|
4)
Neuropati motorik menyebabkan
kelemahan otot dan atropi sehingga perubahan bentuk kaki. Tekanan pada kaki
yang berlebihan menimbulkan kalus yang akan mudah menjadi luka.
|
|
5)
Kaji status sirkulasi vaskuler
kaki dengan palpasi, pulsasi, unltrasound dopler.
|
5)
Klien DM mudah menimbulkan
arteriosklerosis sehingga terjadi penurunan suplai darah ke kaki.
|
|
6)
Kaji adanya edema.
|
6)
Keadaan edema mempermudah
terjadinya luka.
|
|
7)
Anjurkan kepada klien untuk
menjaga kebersihan kulit.
|
7)
Mengurangi resiko infeksi dan
terjadi perlukaan.
|
|
8)
Anjurkan klien untuk menjaga
kelembaban kulit kaki dengan menggunakan lotion.
|
8)
Kulit kaki yang kering beresiko
terjadi luka.
|
|
9)
Anjurkan klien untuk melakukan
latihan senam kaki DM.
|
9)
Meningkatkan sirkulasi darah pada
kaki.
|
|
10)
Anjurkan klien untuk menggunakan
alas kaki yang lebih lembut atau sepatu yang tidak keras.
|
10)
Mengurangi trauma dan terjadi
perlukaan.
|
|
11)
Instruksikan kepada klien untuk
menghindari resiko terjadi trauma seperti penggunaan kompres hangat, minum
minuman panas.
|
11)
Mengurangi resiko trauma karena
gangguan sensasi neuropati.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Diabetes
melitus adalah kelompok penyakit metabolik dikarakterisasikan dengan tingginya
tingkat glukosa didalam darah (hiperglikemia) yang terjadi akibat defek sekresi
insulin, kerja insulin, atau keduanya (Smeltzer, S & Bare. 2005).
Diabetes
mellitus adalah penyakit kronik, progresif yang dikarakterisasikan dengan
ketidakmampuan tubuh untuk melakukan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein
awal terjadinya hiperglikemia (kadar gula yang tinggi dalam darah) (Black &
Hawk. 2009).
Diabetes
melitus adalah sekelompok kelainan yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa
darah (hiperglikemia) mungkin terdapat penurunan dalam kemampuan untuk berespon
terhadap insulin dan atau penurunan atau tidak terdapatnya pembentukan insulin
oleh pankreas (Riyadi, Sujono. 2008).
Ada
3 diagnosa yang muncul pada klien dengan DM, yaitu : ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b/d tidak adekuatnya produksi insulin, resiko
ketidakseimbangan cairan b/d hiperglikemia dan poliuria, resiko kerusakan
integritas kulit b/d neuropati sensori perifer, defisit fungsi motorik,
neuropati otonomik.
B.
Saran
Setelah
mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien dengan diabetes melitus
diharapkan mahasiswa/i dapat mengerti dan memahami dalam melakukan tindakan
asuhan keperawatan tersebut. Saran dari penyusunan makalah ini, penulis
menyadari bahwa makalah ini kurang dari sempurna untuk itu, penulis
mengharapkan saran dan kritiknya yang bersifat membangun dalam penyempurnaan
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Rumahorbo,
Hotma. 1999. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Endokrin. Jakarta : EGC.
Riyadi, Sujono. 2008. Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Eksokrin dan Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta : Graha
Ilmu.
Smeltzer,
Suzzane C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.
Tarwoto. 2012. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem
Endokrin. Jakarta : TIM.
bermanfaat sekali...
BalasHapuscoba juga konsumsi daun yakon untuk normalkan gula darah, lalu konsumsi rutin habbatussauda coba saja 12-24 bulan, insya Allah bisa permanen sembuh sambil banyak istighfar & amal shaleh diperbanyak...
sambil dijaga pola makan & istirahatnya... kebanyakan orang ketika mendengar ada obat ampuh langsung bergantung sama obat & tawakkal sama obat, bukan sama Allah, sambil makan semaunya, tanpa memperhatikan pola diet...
Ini adalah kekeliruan...
http://berkhasiat.web.id/1496-jual-daun-insulin-yakon